Sabtu, 08 Agustus 2009

Senin, 23 Maret 2009

KERAJAAN SIANG DI PANGKEP

KERAJAAN SIANG
DAFTAR ISI BUKU
1. Alas Kata
2. Susunan Jabatan Pemerintahan Di Sul-Sel Sebelum Bangsa Asing Masuk Di Indonesia
3. Indikasi Lahirnya Raja-Raja Dan Kerajaan Di Sul-Sel
4. Asal Usul Kerajaan Siang
5. Hubungan Gowa Tallo Dan Siang
6. Lambang Dan Simbol Kerajaan Siang
7. Skema Pemerintahan Kerajaan Siang Abad Ke Xvi
8. Fungsi Dan Ketentuan Adat :
a. Lontara Bilang
b. Lontara Adat
9. Syarat-Syarat Pemangku Adat
10. Pattola Karaeng Putra Mahakota
11. Susunan Kata Tingkat Derajat Orang-Orang Makassar
12. Kerajaan Siang Porsi Oppoka
a. Arti Anrong Appaka
b. Tugas Anrong Appaka
13. Arti Oppoka
14. Raja-Raja Yang Pernah Berkuasa Di Siang
15. Pemerintahan Karaeng Allu
16. Kerajaan Siang Terpecah
17. Perpisahan Karaeng Allu Dan Penyerahan Kekuasaan
18. Pemerintahan Loe Pappasa Sebagai Opu
19. Perang Barasa Dan Perjanjian “Lallang Sipuea”
20. Pemerintahan Loe Pappasa Dibawah Naungan Kerajaan Siang Loe
21. Budaya Yang Berkembang – Pabissu – Pakarena – Paraga – Patoeng – Pencat Silat.
22. Pappalilikang
- Persiapan Pappalilikang
- Tata Cara Pappalilikang
23. Pangngalleang Ulu Ase-Ase Lolo
24. Hal-Hal Yang Bertalian Dengan Pappalilikang Dan Pangngaleang Ulu Ase
1. Tarian Langgolo-Golong
2. Tarian Saputangan
3. Tarian Kipasa
4. Tarian Pedang
25. Adat Istiadat Yang Berkembang
1. Assamanturu
2. Abbulo Sibatang
3. Attena
4. Assele Badi
5. Siri Sipassiriki
6. Appasili
26. Pappasan Turiolom / Patwa Tumatowa
27. Meonanggil Penganting
28. Angngaru (Puisi Makanan)
29. Agama Dan Kepercayaan
1. Budha – Hindu – Kristen – Islam
30. Pendidikan Dan Kebudayaan
31. Kehidupan Masyarakat
32. Catatan Peninggalan Sifarat
33. Petunjuk Hari Dan Waktu Terbaik Untuk Melangka, Memulai Pekerjaan, Usaha Dan Menanam.
34. Benteng Salapanga / Kasuwiyan Salapangan Ri Gowa
35. Beberapa Catatan Yang Perlu Disimak
36. Adat Istiadat Perkawinan Bugis Makassar
37. Adat Istiadat Membangun Rumah.




















ALAS KATA

Buku ini sengaja disusun oleh penulis sebagai dasar sejarah yang diberi nama LONTARANA OPPOKA ri PACCELANG (Kerajaan siang).
Penulis menyusun buku ini hanya berdasarkan informasi tutur, cerita dan kisah dari mulut kemulut yang bersumber dari kakek ke nenek sampai kepada bapak dan ibu, kemudian diterima oleh anak dan cucu serta cicit sehingga tidak seragam penerimaannya.
Namun, penulis menyusun buku ini dengan banyak bertanya pada orang tua dulu yang dianggap masih banyak mengetahui atau masih tergolong pelaku sejarah yang masih hidap saat penulis mengumpulkan data sejak kecil tahun 1950 sampai ditulisnya buku ini.
Penulis selalu mengumpulkan data dari berbagai kisah tutur ditambah dengan peninggalan sejarah yang masih ada seperti :Pastanaya = tempat istana Kerajaan Siang, Toddoka, kuburan OPPOKA, kuburan Karaenga, Kuburan Ponro, sera jama-jama ya sekarang jadi pesawahan dan empang serta peninggalan budaya lainnya seperti : pakarena tarian pamingki, pappalilikan, pappaddekkoang. Simbol / bendera kerajaan siang masih tersimpan baik di Istana Balla Kalompoanga tahun 1966 di Jagong Pangkajene. bersama komponen lainnya termasuk kalompoanga yang dipercaya dan dianggap pemilik kerajaan.
Semua ini dijadikan bahan oleh penulis untuk menyusun buku ini, semoga dikemudian hari generasi muda yang berpendidikan berusaha mengadakan penelitian yang lebih akurat demi kesempurnaan buku berikutnya.
Disamping kisah tutur dan bukti sejarah yang bisu serta peninggalan sejarah yang masih ada, pada tahun 1950 penulis masih sempat melihat lontara dari benda Tanang dan sempat dibacakan dan diceritakan oleh beliau tentang kebesaran kerajaan siang. Demikian pula halnya dengan Dg. Baranna yang memiliki lontaraana Gowa, Beliau banyak menceritakan hubungan gowa, Tallo dan Siang utamanya perang Kappala Tallum Batua. Peperangan Gowa – Bone, peperangan Barasa dan Peperangan Pariaman.
Hal yang sama pernah juga penulis mendengar kisah dari karawi Dg. Lappa Imam Pacelang yang banyak menceritakan tentang susunan Raja-raja yang pernah berkuasa di Pacellang Kerajaan Siang termasuk Tumanurunga. Demikian pula kisah tutur dari H. Parukku Dg. Pua yang banyak menceritakan keberadaan Toddoka, Tuan Pandang Laut dan masuknya Islam di Kerajaan Siang.
Semua kisah tutur ini dijadikan bahan oleh penulis untuk menyusun buku ini. Sayang sekali karena Lontara yang penulissebutkan diatas menurut pemiliknya sudah hilang tercecer sewaktu pembakaran massal rumah-rumah oleh pasukan di / TII = Darul Islam – Tentara Islam Indonesia 1954 di Paccelang Pangkajene.
Semoga dengan adanya buku sederhana ini dapat menambah buku bacaan lainnya untuk mengungkapkan tabir Lontaraana OPPOKA ri Paccelang / Kerajaan Siang sebagai cikal bakal Kebudayaan Pangkajene Pangkep.
Kalau terdapat kehilafan, kesalahan, kekeliruan, dan kekurangan bahkan jauh dari kebenaran dengan rendah hati penulis mengaturkan maaf dan mohon dibenarkan dan disempurnakan.
Penulis sangat berterima kasih bila pembaca memberikan teguran, kritikan demi kesempurnaan buku ini terkhusus kepada anak cucu penulis diharapkan agar senantiasa membaca mengoreksi, menyempurnakan sehingga buku lontaraana OPPOKA kerajaan siang lebih sempurna lagi.
Dan kepada generasi penerus yang berpendidikan kiranya bersedia mengadakan penelitian di bekas Dewan Semangku Adat yang dikenal dengan Anrong Appaka ri Siang. Terdiri dari Lolo = Sekertaris Juru bicara di Sengkae, Paccallaya = Penegak hukum di Paccelang, Tubaraniya = Panglima yang berkedudukan di Sibatua baru-baru serta tunirannuang = Benda karyawan yang berkedudukan di Lesang, karena masih banyak sekali peninggalan sejarah karajaan siang di tempat ini.
Buku ini disusun oleh penulis sejak tahun 1955 dan dilanjutkan pada tanggal 18 Agustus 1991di Jakarta dan disalin pada tanggal 17 Juni 2002 setelah penulis membaca sejarah kerajaan Siang kuno bertanda generasi penerus yang berpendidikan semakin terdorong untuk ingin mengetahui kebesaran kerajaan Siang pada masa emasannya melalui penelitian. Guna terbitnya buku kerajaan Siang yang sempurna.
Ujung Pandang, 25 Agustus 1955
Disalin dan diperbaiki di
Jakarta Tanggal 18 Agustus 1991
Diulangi salinan di
Pangkajene 17 Juni 2002
Disusun Oleh H. Muh Arief B Pengembang
Mantan Kep. Desa Paccinongan
Kel. Anrong Appaka Sekarang


H. M. Arief B Muhammad Qadaruddin



Susunan Jabatan Pemerintahan di Sul-sel
Sebelum Bangsa Asing Masuk di Indonesia

Sebelum Banga Asing masuk di Sulawesi Selatan sudah ada susunan administrasi dan sudah mangenal pemerintahan tersusun dan diatur oleh masing-masing kerajaan menurut kebutuhan Kerajaan di Daerah masing-masing. seperti berikut ini:
NO
NAMA JABATAN
KETERANGAN
1.
Luwuk
Tumanurung batara dewa
Mappajunge ri Luwuk datu Luwuk

OPU Patunruk
OPU Tumarilaleng
OPU Pabbicara
OPU Balirate

Kali

= Latugo Tangi, sampuru Siang Sawerigading
= Raja yang dipayungi / Maha Raja-raja yang diagungkan. Jabatannya tertinggi di Luwuk.
= Mangku Bumi Ketua adat
= Pemerintahan harian
= sekretaris, juru bicara, utusan
= Urusan ekonomi anggaran pendapatan / Belanja Kerajaan (Bendaharawan).
=Urusan Agama Islam
2.
Tanah Toraja
Tumanurung
Puang Matowae
Ampu Lebang
Anruang
Sukarang Aluk Sandah Saratak
Tulempongon Bulan Padang Tomatari Allo.
Daerah yang di percayai
Tempat : tumanurung


= Tuang Tambori langit. Raja pertama
= Tuhan yang maha esa
= Alinsi perkumpulan 40 Raja-raja
= Dewan pemangku adat 40
= Aturan adat dan agama
= Nama asli Tana Toraja


=Rantepao, Salaputi Sesiangi, kassak, mamasa dan luwuk.
3.
Gowa
Tumanurung
Batara Gowa
Somabantarai Gowa
Pabbicara butta
Kasuwi yang Salapanga
Tumailalan Towa
Paccalla
Anreng Lompong
Gallarrang
Panggulu Sara

Karaeng Bajo/ K. Iballe
= Raja yang dipertuhan
= Raja yang dipertuan
= Pemerintahan harian (Mangkubumi)
= Anggota Dewan Adat sembilan
= Penasihat Raja
= Pemegak hukum peradilan
= Tubarani panglima perang
= Pelaksana pemerintahan
= Imam urusan agama
4.
Bone
Tumanurung
Mangkaue ri Bone
Tumailaleng
Arung Pitue
Tellumpoccoe
Tuangke / Tumacca

Salewatan
Mado
We Tanri Abeng
= Mata Silomboe
= Raja yang dipertuankan dan bertahta
= Mangkubumi Ketua Adat
= Dewan anggota adat mewakili tujuh kerajaan
= Aliansi muncul tiga kekuatan
= Bone, Soppeng, Wajo.
= Cendekiawan, Sekertaris.
= Pemerintahan Harian
= Pemerintahan desa / Kepala kampung
5.
Siang
Tumanurung
Ratu, OPU, OPPO, Karaeng

Anrong appaka
Katonga =
Lolawa =
Paccallaya
Tubarani
Tunirannuang
Lo`mo, Dae, Kare
Pallarang
Panggulu sara / Imam
Sariwulan = Sinar Bulan
= Naswulen = Cahaya Bulan
= Raja Yang Bertahta Dan Dimuliakan Jabatan Tertinggi Di Siang
= Anggota Dewan Pemangku Adat
= Ketua Adat Penasihat Raja
= Juru Bicara, Sekertaris Raja.
= Penegak Hukum / Peradilan
= Panglima Pembela Kerajaan
= Urusan Ekonomi, Bendaharawan
= Dewan Pelaksana Pemerintahan

= Urusan Agama Islam
6.
Wajo
Batara Wajo
Arung Matowae

Arung Ngenengnge
Tumaca / Cendekia
Renreng benting pola
Tellumpoccoe
Panggendong / Pangngepa
Dewan adat empat puluh

= Raja Yang Dimuliakan
= Raja Yang Dituakan Dipertuang. Jabatan Tertinggi Di Wajo Tidak Dapat Diwariskan
= Anggota Dewan Adat Enam Kerajaan
= Sekertaris, Juru Bicara, Diplomat, Jurusan.
= Panglima Pembela Kerajaan
= Aliansi, Bone, Soppeng, Wajo
= Pelaksana Pemerintah Harian
= Dewan 40 berhak mengangkat dan memberhentikan Raja berdasarkan hasil musyawarah.

Indikasi Lahirnya Raja-Raja dan Kerajaan Di Sul-Sel
Menurut cerita lisan dari Tanah Toraja yang banyak dituturkan dan ditulis oleh penulis sejarah Lontara bahwa Raja-raja di Sulawesi Selatan berasal dari keluarga Tumanurung yang bernama Tambori Langit yang kawin dengan tuan Sandabilik yang dianggap Tumanurung yang muncul di busa air di sapandiata pertemuan sungai Saddang dan sungai maula yang melahirkan Lakipadada kemudian digelar Batara Dewa di Luwuk dan Batara guru di Gowa dan melahirkan tiga orang anak masing-masing bernama :
1. Tetta Lamereng kemudian dikenal di Gowa dengan nama Karaeng Bajo di angkat menjadi raja di Gowa dengan gelar Batara Guru
2. Tetta Labatang yang menjadi Raja di Karo Sanggallak dan menjadi Raja di Tanah Toraja.
3. Tetta Labunga yang menjadi Raja di Luwuk kemudian digelari Batara Dewa Mappayunge ri Luwuk.
Tumanurung yang turun kemudian berasal dari keturunan tersebut diatas. Demikian kepercayaan dan keterangan orang Toraja.
Kerajaan Makassar
Menurut kisah tutur orang-orang tua dulu yang banyak ditulis oleh penulis sejarah lontara bahwa : Kerajaan Makassar lahir dalam tiga periode :
1. Kerajaan Tompo Bulu yang diperintah oleh seorang Raja bernama Karaeng Tompo putrinya bernama Karaeng Malino diperkirakan lahir pada abad ke X di Pajananti Daerah Barru Sekarang.
2. Kerajaan Siang yang dipercayai Rajanya seorang Ratu Manurungi di Pangkajene kemudian kawin denga Karaeng Bajo Manurungi di Gowa diperkirakan lahir pada abad ke XIII.
3. Kerajaan Makassar lainnya ialah Kerajaan Gowa yang rajanya dipercayai Tumanurung Manurungi di Tamalateya dan dilantik di Takannassi diperkirakan lahir pada abad ke XIV.
Kerajaan Siang Dalam Tiga Periode
Jika kerajaan Makassar lahir dalam tiga periode, maka sama halnya Kerajaan Siang, lahir dalam tiga periode juga.
1. Kerajaan Siang yang dipimpin oleh seorang raja dipercayai Tumanurung yang didampingi oleh seorang ketua adat yang disebut Katoangan = Ketua hadat yang dipertua diperkirakan lahir pada abad ke XIII.
2. Kerajaan Siang berikutnya didampingi seorang OPU yang lebih dikenal OPPOKA Paccelang yang didampingi oleh pemangku adat yang disebut Anrong Appaka ri Siang diperkirakan lahir pada abat ke XIV.
3. Setelah Gowa jatuh tahun 1966 perjanjian Bungaya tahun 1969 mulailah VOC berkuasa kerajaan Siang terpecah lahirlah Kerajaan Siang Loe. Gabungan Kerajaan Siang dengan Kerajaan Barasa diperkirakan lahir pada abad XVIII didampingi pemangku adat di sebut Kare Dae dan Lom`mo.
Selanjutnya Kerajaan Siang tidak muncul lagi setelah VOC melebur menjadi kewedanaan yang diperintah oleh seorang Karaeng atau Arung pada abad ke XVIII.
Kepercayaan adanya Tumanurung mulai pudar setelah agama Islam masuk di Selawesi Selatan yang diterima oleh Gowa dan Tallo selanjutnya agama Islam masuk di Kerajaan Siang pada pertengahan abad ke XVI melalui Islamisasi dan bertukarlah kepercayaan rakyat dari Tumanurung menjadi kepercayaan kepada Wali-wali dan puncak kepercayaan masyarakat kepada Wali-wali setelah berkembangnya ajaran Tarekat.
Asal Usul Kerajaan Siang
Menurut kepercayaan orang-orang tua dulu asal usul kerajaan di Selawesi Selatan ini berasal dari Tumanurung yang tidak diketahui asal usulnya dan dipercayai turun dari langit, Misalnya :
1. Orang Toraja percaya bahwa Tumanurung pertama di Tanah Toraja bernama Tuan Tambori Langit Raja Tulampongan Bulanpadang Tumatari allo Kawin dengan Janda bilik Manurunga di Busa air dan muncul di Japan doata pertemuan Sungai Saddang dan sungai Maula melahirkan Lakipadada.
2. Menurut kepercayaan orang-orang Luwuk di Luwuklah pertama-tama turun Tumanurung yang bernama Latugo Langit kawin dengan We Nyilik Timok, Ratu yang muncul di busa air ombak di lautan kemudian digelar Batara Dewa yang melahirkan keturunan Sampuruk Siang dan Sawerigading dan we Tanriabeng saudara kembarnya.
3. Selanjutny Sawerigading juga dipercayai Tumanurung kawin dengan we Cudai Putri Kaisar Cina yang diberi gelar Daeng ri Sompa. Nama lain dari Sawerigading Cina yang melahirkan J Lagaligo – Kemudian digelar Batara Guru.
4. Lebih lanjut J Lagaligo dipercayai juga Tumanurung yang kawin dengan We Mentok Datunna Tempe, kemudian kawin lagi dengan putri Karaeng Tompo salah seorang Raja Makassar yang bernama putri Daeng Malino yang berkedudukan di Paja nanti Daerah Barru sekarang yang kemudian bergabung dengan Kerajaan tanah Legik Karejaan Cina.
5. Dilain kepercayaan ada juga yang mengatakan bahwa Sampuruk Siang adalah Tumanurung yang pertama di Kerajaan Luwuk dan ada juga yang berpendapat Sampuruk Siang Manurunga ri Lompo Tappange di Negeri Cina dan dilantik ditempat pelantikan Raja di Wowolonrong yang dinamakan Tanah Bangkalak. Konok kerajaan siang ini berasal dari keluarga sampuruk Siang.
6. Menurut orang-orang duri di duri juga turun Tumanurung dipercayai turun dari langit diatas puncak gunung Batulotong / Bolong kemudian diberi nama Embong Manurunga di Enrekang yang melahirkan Kerajaan Massenrengpulu.
7. Di bone juga dipercayai turun Tumanurung dari langit Loe Tanri abeng seorang perempuan yang sangat cantik bersaudara kembar dengan sawerigading manurunga di luwuk dan ada juga manurunga bernama mata silombe yang memimpin Bone.
8. Di Soppeng juga turun Tumanurung yang di gelar Seka Gili yang memimpin kerajaan Soppeng.
9. Di Pare-Pare juga turun Tumanurung di Batu Kiki yang mengembangkan kerajaan adat Tapareng sebelah Barat danau Tempe.
10. Di Pangkajene juga turun Tumanurung seorang perempuan yang cantik dipercayai turun dari langit di Nita Kampung Paccelang kemudian diberi nama Sri Wulang = Sinar bulan dan ada juga memberi nama Nasa Wuleng = Cahaya Bulan. Kemudian kawin dengan karaeng Bajo Manurunga di Tamalate dan dilantik menjadi Ratu di Gowa yang menjadi Cikal bakal lahirnya Kerajaan Gowa.
11. Dan banyak lagi Tumanurung yang turun dari langit yang dipercayai oleh orang bumi sebagai utusan dari Puang Sewae untuk mengatur orang-orang bumi. Kecuali Kerajaan wajo tidak terdapat Tumanurung namun Rajanya dipercayai berasal dari Tumanurung dari Luwuk.
Menurut kepercayaan orang-orang di Paccelang Tumanurung di Nitu kemudian diangkat menjadi Ratu dan di bangunkan Istana Ballak Lompoa ri Paccelang yang dikenal Deng Pastanaya yang didampingi oleh Katoanga dan dinobatkan menjadi Raja Siang yang dipercayai berasal dari keluarga Sampuruk Siang. Dan ada juga pendapat lain mengatakan Kerajaan Siang berasal dari kata Kasuwiyan Salapanga di Gowa.
Atas perkawinan Tumanurunga ri Pangkajene Ratu siang dengan Karaeng Bajo Tumanurunga ri Gowa maka lahirlah kerajaan sederhana . Antara orang Pangkajene dan Gowa dahulu kala menganggap bersaudara / julu cera.
Apalagi setelah Gowa Tallo bergabung menjadi kerajaan kembar dalam naskah Perjanjian Gowa Tallo berbunyi artinya dua Raja dan hamba karena suaminya menjadi Raja di Gowa dan Isterinya menjadi Raja di Tallo. Sedang Kerajaan Siang Kerajaan Tallo Se Ibu atas perkawinan Putri Karaeng Tallo Piti Daeng Majannang dengan karaeng Tappa putera asli Paccelang bukan keturunan bangsawan tinggi dan menjadi Raja di Paccelang.
Hubungan Gowa Tallo dan Siang
Judul dituturkan sebelumnya atau perkawinan Tumanurungan di Pangkajene. Ratu Siang dengan Tumanurung ri Gowa Karaeng Bajo yang digelar dengan Batara Guru maka muncullah kerajaan Julu Cera = (Sedarah) . Rakyat Gowa menganggap bersaudara dengan rakyat Pangkajene demikian sebaliknya terkhusus Kasuwiyang Salapanga ri Gowa dengan Anrong Appaki Siang merupakan serumpun bambu dahulu kala.
Hubungan Gowa dan Tallo sejak tercapainya perjanjian damai Raja Gowa Tuparrisika Kallonna Daeng Matanre dengan Tallo Karaeng Matowaya dengan naskah perjanjian Artinya Dua Raja dan satu Abdi yang melahirkan Kerajaan Gowa Tallo sebagai Kerajaan Kembar.
Perjanjian ini diperkokohkemudian hari setelah Karaeng Tunijallo Dg. Matanre Raja Gowa dan kawin dengan putri Karaeng Matowaya Karaeng Tallo – yang bernama I Sabo Dg. Ningai yang digelar Karaeng Bainea. Maka semakin kuatlah posisi perjanjian damai tersebut (dua Raja dan satu Abdi).
Rakyat Gowa dan Rakyat Tallo sudah tidak dapat membedakan mana Raja Gowa dan mana Raja Tallo. Karena Raja Gowa dan isterinya menjadi raja di Tallo dan semakin tersohorlah Kerajaan kembar Gowa Tallo.
Hubungan Tallo dan Siang
Setelah karaeng Matowaya ri Tallo menyerahkan mahkota kekuasannya kepada putrinya Karaeng Bainea I Sabo dg. Ningai dan dilantik menjadi Raja dengan gelar karaeng Baine ya kemudian dipersunting oleh Raja Gowa Karaeng Tunijallo untuk dijadikan permaisuri guna lebih memperkuat perjanjian damai / dua Raja dan satu hamba.
Atas perkawinan Raja Gowa Karaeng Tunijallo dengan Karaeng Bainea I Sabo Dg. Ningai Raja Tallo membuahkan delapan keturunan. Salah seorang Majammang kawin dengan Karaeng Tappa` putra asli Paccelang kemudian menjadi karaeng di Paccelang dan dinobatkan menjadi OPU kemudian digelar OPPOKA diPaccelang dan menjadi pemangku Kerajaan Siang. Maka lahirlah Kerajaan Serumpun Bambu = Kerajaan Siajin Bugis .
Bapaknya menjadi Raja di Gowa, Ibunya menjadi Raja di Tallo dan anaknya menjadi Raja di Siang. Dan oleh Raja-raja Bugis menanamkan Gowa Tallo dua Tamallaisen. Raja kembar yang tidak dapat dibedakan. Gowa, Tallo, Siang disebut Tallo Tamasarang. Ketiga Kerajaan ini tidak dapat dipisahkan karena suaminya menjadi Raja di Gowa, Istrinya menjadi Raja di Tallo dan anaknya menjadi Raja di Siang. Dan inilah yang dinamakan Kerajaan Makassar.
Melihat kekuatan ketiga Aliansi ini Gowa, Tallo dan Siang yang melahirkan Kerajaan Makassar, oleh Raja-Raja bugis juga menjalin aliansi yang dikenal dan disebut Pellumpaccoe, yakni Bone, Saudara Tua Soppeng, saudara tengah dan Wajo saudara bungsu.
Dilain pihak terbentuk pula aliansi Ajattapareng, Suppa Alitta Sawitto, Sidenreng Rappang. Masing-masing untuk memperkuat Kerajaan.
Untuk mengabdikan Gowa Tallo sebagai kerajaan kembar maka digabungkanlah rumah kembar sebanyak tujuh buah menghadap ke barat di bibir pantai, mangara bombang, tempat tinggal para pemengku adat Karaeng Mangngampi, seperti nyanyi orang-orang tua dulu menyatakan :



Catatan :
Ada juga pendapat bahwa gelarmacang keboka ri Tallo di berikan kepada karaeng Matowaya karena keberaniannya dalam peperangan menghadapi Tulleppocoe untuk mengislamkan Bone, Soppeng dan Wajo.
Beliau terkepung oleh pasukan Tulleppocoe sehingga beliau sudah dianggap tertawan atau sudah tewas. akhirnya pasukan beliau megundurkan diri kembali ke istana melapor kepada Raja Gowa.
Beberapa hari berselang beliau kembali dengan selamat dalam peperangan pasukan Tulleppocoe.
Dengan demikian beliau digelari Macan Kebaka ri Tallo sebagai simbol keberanian dan keahlian bergerilya seperti harimau putih.
Lambang Dan Simbol Kerajaan Siang
Menurut kisah tutur orang-orang tua dulu mengatakan simbol dan lambbang Kerajaan Siang pada mulanya dibuat dan ditenun dari serat daun lontara yang disebut “Racca” yang berwarna hitam dengan logo Bintang ditengah-tengahnya kemudian disebut I Labolong karena hitam dari warna serat lontara yang hitam / Racca. Inilah yang dibuat bendera sebagi simbol Kerajaan. Demikian keterangan Dg. Baranna. Abad ke XIII.
Setelah agama Islam masuk dan Kerajaan Siang menerima agama Islam sebagai agama resmi kerajaan, maka lambang kerajaan Siang diganti dengan bendara yang sering disebut Macm Keboka ri Tallo atau Cindeya abad ke XVI.
Lambang Kerajaan Siang pada abad ke XVI bersimbol, kepalanya bermuka kuda, berkai macan, berekor harimau dan bersayap Burak yang dikemas dan dibingkai dalam kaligrafi ayat-ayat al-Qur`an. (Lukisan Arab).
Lidahnya bercabang dua, satu cabang diantaranya mengeluarkan sembilan gelombang ilustika yang diantar oleh lafal yang membentuk lingkarang terdiri dari tujuh belas mustika menyatu menjadi bola dunia 5 lima diantaranya berada dalam lingkaran mustika tersebut, berada ditengah-tengah yang berasal dari pangkal lidah dan lafal.
Selain dari itu terdapat pula bundaran yang sama tetapi terpisah dari lingkaran mustika pertama dan tidak dapat dibedakan hanya tidak menyambung satu dengan lainnya seperti bola dunia dan planet akhirat.
Apa arti simbol semua ini ?
Tentu tidak ada dapat yang memberikan arti secara jelas kecuali pencipatanya sendiri. Siapa penciptanya?
Sekalipun demikian orang-orang tua dulu sesekali masih ada yang memberikan penafsiran, sebagai berikut:
1. Jenis kuda melambangkan hewan digunakan para sahabat khususnya Hasan Husain cucu Rasullah untuk kendaraan perang mengembangkan agama islam di seluruh pelosok. Dan kuda adalah hewan terkuat lari dan lincah dijadikan kendaraan perang pada Jamannya.
2. Kaki yang sejenis dengan harimau dan Ekornya serupa dengan ekor macan melambangkan kekuatan Baginda Ali RA yang dijuluki oleh Nabi Harimau Allah. Hewan yang paling berani, paling kuat serta galak tetapi sangat jinak apabila tidak diganggu seperti Sayidina Ali RA sangat bijak mengembangkan agama Islam dan tegas bagi lawan yang menggangunya.
3. Sayap yang menyerupai sayap burak melambangkan kendaraan yang paling cepat dikendarai Rasulullah sewaktu Isra dan Mi`raj dari Masjidil Haram ke Masjidil Aksa sampai langit yang paling tinggi Siratul Muntaha untuk menerima shalat lima waktu menyatu dalam simbol ini, guna menyiarkan agama Islam kepenjuru seluruh dunia.
4. Bola dunia yang terdiri dari tujuh belas mustika melambangkan tujuh belas rakaat shalat sehari semalam yang wajib dikerjakan oleh umat Muhammad sedang lima mustika yang berada ditengah melambangkan Rukun Islam yang harus dipatuhi dan enam mustika lainnya melambangkan Rukun Iman yang dikemas menjadi satu indah yang tak terpisahkan dengan mustika lainnya. Adapun sembilan gelombang mustika yang diantar oleh huruf
melambangkan sembilan kali sehari semalam umat Islam diwajibkan bersaksi mengucapkan syahadat setiap shalat lima waktu untuk dipakai kendaraan menyeberang kepada pelamut akhirat tempat kehidupan yang abadi.
5. Adapun kaligrafi ayat-ayat Al-Qur`an yang membingkai dan mengemas simbol Kerajaan Siang hanya dapat diartikan dan ditafsirkan oleh penciptanya atau orang-orang tertentu yang mendalami arti dan makna serta maksud ayat-ayat Al-Qur`an yang berbentuk Kaligrafi itu diantaranya terdapat pada ayat, batang tubuh, kepala, kaki dan ekornya serta lidah Allah.
Visi. Visi utamanya simbol Kerajaan Siang ini ialah menyebarkan luaskan ajaran agama Islam diseluruh Kerajaan yang belum agama Islam melalui Islamitasi dengan cara damai maupun cara lain yang harus ditempuh untuk menegakkan kalimat tauhid melalui Rukum Iman dan Rukun Islam.
Misi. Setelah visi tercapai, maka misi yang diemban ialah mendidik masyarakat yang sudah menerima ajaran Islam untuk mengetahui dan mendalami ajaran Islam melalui Rukun Iman guna mencapai derajat takwa dan mencapai insan kamila (Manusia yang sempurna).
Semua ini tergambar dari kaligrafi ayat Al-Qur`an yang mengelilingi Kerajaan Siang mulai dari kepala, telinga, mata, sayap, ekor, kaki dan seluruh batang tubuh penuh dengan ayat-ayat Al-Qur`an yang diartikan kecuali penciptanya dan orang-orang yang memahami makna dan tafsirannya.








Fungsi dan Ketentuan Adat
Sebelum penulis beralih kepada fungsi dan ketentuan adat pada zaman dahulu, maka penulis lebih dahulu akan mengemukakan dua macam lontara yang saling terkait satu sama yang lain dan sukar untuk dipisahkan sehingga para ahli lontara disatukan saja antara Lontara Bilang dan Lontara Adat.
Lontara Bilang
Menurut Karawi Dg. Lappa Iman Paccelang, mengatakan bahwa lontara bilang itu adalah surat Atturiolong = ( ) yang memerangkan silsilah keturunan Raja-Raja yang pernah memerintah dan berkuasa dalam kerajaan suatu negeri sehingga dapat diketahui kemurnian kadar kebangsawanan raja itu sendiri serta asal usulnya. Apakah raja keturunan turun temurun atau raja gabungan, yang sengaja menggabung untuk memperkuat kerajaan (aliansi) atau Raja taklukkan, Raja sedarah (Julu cera’), Raja seibu atau Raja sebapak semuanya tercatat dalam satu diantara yang disebut surat Atturiolong dan disebut juga silsilah Appang, guna mengetahui kemurnian kadar kebangsawanan seorang Raja atau hubungan Raja dengan raja yang lain.

Lontara Adat / Adik
Yang dinamakan Lontara Adat adalah suatu ketentuan yang mewakili rakyat yang terdiri dari kepala adat yang disebut Dewan Pemangku Adat guna membatasi kekuasaan mutlak Raja supaya tidak bertindak sewenang-wenang dan dewan inilah yang biasanya membentuk perjanjian baik tertulis maupun yang tidak tertulis yang diperkuat dengan sumpah kemudian dijadikan hukum adat yang kebanyakan ditulis oleh ahli lontara dari berbagai ulasan-ulasan dan bahasan. Seperti, Mappayung ri Luwu Lontara di Gowa, Kitta ri Bone, Pappasang ri Kajang, Sukarang Alasundah ri Toraja, dan lain-lain sebagainya.
Setiap kerajaan pada zaman dahulu, mempunyai dan memiliki anggota Dewan Pemangku Adat menurut kebutuhan dan nama yang berbeda dari satu kerajaan dan kerajaan lainnya seperti berikut ini :
1. Kerajaan Siang disebut Anrong Appaka.
2. Tanah Toraja disebut Anrong Lembang.
3. Tanah Luwuk disebut Opu.
4. Tanah Bugis disebut Uluanang.
5. Tanah Mandar disebut Tumakaka.
6. Tanah Duri disebut Tuangke.
7. Tanah Enrekang disebut Tumatowa.
8. Gowa disebut Benteng Salapanga (Kasuwiyang Salapang).
9. Maros disebut Toddo Simaya.
10. Bone disebut Arung Pitue.
11. Wajo disebut Arung Ngennengnge.
12. Soppeng disebut Benteng Pola.
13. Dan lain-lain Pangngepa, Panddiring, Pangngendong.
Dan banyak lagi istilah yang digunakan Raja-Raja dulu sebagai pendamping guna melaksanakan pemerintahan harian dan hukum adat.
Jadi, fungsi Dewan Pemangku Adat itu selain membatasi kekuasaan mutlak Raja-Raja, Dewan juga mendampingi Raja dan melaksanakan ketentuan adat yang dibuatnya sendiri bersama Raja dan inilah yang berlaku di Kerajaan Siang.

Syarat-Syarat Pemangku Adat
Biasanya pemangku adat itu diambil dari kelompok keluarga Raja sendiri yang sederajat dengan Pattola Karaeng tetapi bukan Putera Mahakota seperti anak Mangngampi. Putra Raja lainnya yang sederajat dengan Pattola Karaeng tetapi tidak dapat menjadi pewaris kerajaan dan memenuhi syarat-syarat untuk menjadi pemangku adat seperti dibawah ini :
I.

Artinya :
Yang dibentuk Adat ialah : aturan yang jernih berkilau, berperangai baik dan terpuji yang dapat berlaku umum dan merata untuk dijalani bersama dan di suruh orang untuk mentaatinya.
II.


Artinya :
Pemengku adat itu tidak mengenal anak dan cucu, tidak ada bakal dipangku dan tidak ada bakal dipetik dan tidak berjalan titian kayu yang lapuk dan tidak pula bersandar pada kayu yang mati (Artinya berjalan seimbang)
III. Pappasang ri Kajang


Artinya :
Kalau mau jadi guru harus sabar. Kalau mau jadi Raja harus jujur. Kalau mau jadi pemangku adat harus tegas membela kebenaran.
Biar anak tidak bisa dilindungi seperti ayam yang sudah melukai lawannya biar keluarga tidak boleh dilindungi kalau bersalah seperti menyembunyikan ayam sudah luka dan patah.
Pemangku adat harus jujur dan tegas biar anak kalau salah harus diberikan sanksi hukuman.
Persyaratan lain yang harus dimiliki seorang Dewan adat ialah :
1. / Menjadi panutan rakyat
2. / Pelita bagi orang lain
3. / Membagi yang manis dan menelan yang pahit.
4. / Artinya berperangai baik terpuji merakyat agar rakyat cinta kepadanya.
Lambe Lalomo telah menetapkan wewenang / kewajiban kepada Dewan Pemangku adat pada jaman dahulu. Hal 100.
PATTOLA KARAENG (Putra Mahakota)
Menurut orang-orang tua dulu mengatakan apabila ingin mengambil dan memiliki pemimpin terlebih dulu melihat kewajiban yang telah ditentukan oleh adeat seperti, “Pattola Karaeng” dan semacamnya yang dapat menggantikan Raja apabila meninggal atau ada sebab lain dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Pattola Karaeng Putra Mahakota yang dapat menggantikan ayahnya menjadi Raja, apabila si anak atau putra Raja lahir sesudah ayahnya menjadi Raja.
Putra Raja yang lahir sebelum Bapaknya menjadi Raja tidak termasuk Pattola Karaeng atau Putra Mahakota.
Tetapi apabila dinilai ia lebih pintar, lebih berani, lebih jujur, lebih dicintai oleh rakyat, memiliki kemampuan dan persyaratan yang ditentukan oleh adat, maka suara terbanyak yang menjadi pilihan.
2. Apabila Raja memiliki dua atau tiga anak selama memangku jabatan Karaeng maka oleh Dewan memilih siapa yang lebih pintar, lebih berani, lebih jujur, dicintai oleh rakyat (merakyat). Jika sama-sama pintar, sama-sama berani, sama-sama jujur dan sama-sama dicintai oleh rakyat, maka dewan menyarankan memilih siapa yang tertua, itulah yang patut diangkat menjadi Pattola Karaeng menggantikan ayahnya.
3. Jika syarat-syarat itu tidak dimiliki oleh Pattola Karaeng dari Putra Raja oleh Dewan adat barulah beralih mencari pengganti dari keluarga besar kerajaan yang pantas menjadi Raja yang ditentukan oleh suara terbanyak dari keluarga besar itu sendiri yang memiliki kemampuan yang ditemtukan oleh adat-adat sebagi berikut ini :
a. / Cendekia yang baik hati memikirkan kepentingan Rakyat.
b. / Berani sopan dan bijaksana menegakkan kebenaran dan keadilan.
c. / Jujur penuh kehati-hatian menjaga harga diri.
d. / Merakyat dicintai dan mencintai rakyat banyak.
Jika seorang sudah memiliki persyaratan tersebut diatas untuk dijadikan calon, maka suara terbanyaklah yang menjadi pilihan dari keluarga itu sendiri, seperti tercatat dalam Lontara Luwuk.

Batal ketentuan Raja, Tidak batal ketentua adek, batal ketentuan adek tidak batal ketentuan keluarga besar di daerah-daerah. Batal ketentuan keluarga besar didaerah tak batal ketentuan orang banyak.
Jadi suara terbanyaklah yang menjadi ketentuan terakhir dalam pemilihan Raja (Karaeng) sebagai pimpinan. Jika proses ini berjalan sesuai ketentuan adat. Rakyat akan mentaati, mengikutinya.

Susunan Kasta Tingkat Derajat Orang-Orang Makassar
Bukan saja di Jawa dan dilain-lain daerah memiliki susunan kasta tingkat derajat seseorang tetapi juga di Sulawesi Selatan khususnya Suku Makassar memiliki pula susunan kasta tingkat derajat susunan kasta tingkat derajat seseorang untuk mengetahui asal usul keturunan.
Orang tua dulu membagi tingkat derajat susunan Kasta orang-orang Makassar menjadi beberapa tingkatan dan golongan.
1. Golongan bangsawan tinggi terdiri dari anak bangsawan Tino = ( ) = Bangsawan murni.
a. Anak Pattola Karaeng Putra Mahakota. Lihat halaman 23
b. Bangsawan timggi yang sederajat dengan Pattola Karaeng tetapi bukan Putra Mahakota.
c. Anak Mangngampi Putra Raja lainnya yang sederajat dengan Pattola Karaeng tetapi tidak dapat menjadi pewaris Kerajaan atau Karaeng.
2. Karaeng Sipuk
Anak Bangsawan campuran artinya ayahnta atau ibunya anak bangsawan murni tetapi ibunya atau bapaknya orang kebanyakan turunan Tumaradeka.
3. Anak Cera`
Ayanhnya darah murni sedang ibunya dari golongan Ata = (Hamba atau orang kebanyakan).
4. Anak Karaeng Salah
Ayahnya golongan Bangsawan dari anak Sipuk atau anak cerak sedang ibunya seorang Tumaradeka atau orang biasa.
5. Anak Karaeng Nirappung
Yaitu anak Karaeng yang belum jelas silsilah keturunannya dan bukan keturunan Karaeng yang termasuk golongan yang berasal dari Tumanurung.
6. Tumaradeka
Yaitu golongan rakyat biasa yang memiliki dan memegang teguh hukum adat dan mentaatinya, sehingga menjadi orang terpandang yang baik-baik.
Termasuk juga dalam golongan ini rakyat biasa yang tidak melanggar ketentuan hukum adat dan pantas menyandang sebutan Daeng.
7. Golongan Budak
Yaitu golongan ata atu hamba yang sudah mengabdi turun menurun kepada Raja atau majikannya. Atu dianggap ata/hamba karena dihukum dalam pelanggaran adat atau seorang Raja kalah dalam peperangan kemudian ditawan dan dijadikan budak sesuai dengan aturan hukum adat.
Termasuk juga orang yang dibuang karena melanggar dan menentang peraturan adat yang berlaku ( Adat Assimemangeng ).
Ketujuh susunan kasta tingkat derajat orang-orang Makassar pada masa dahulu sangat mempengaruhi kehidupan sosial, baik sosial politik, sosial ekonomi maupun sosial budaya, sehingga pemerintahan didominasi oleh anak keturunan bangsawan tinggi, seperti Pattola Karaeng dan jabatan lainnya. Ekonomi sosial dipegang oleh keturunan Karaeng. Demikian budaya yang berkembang seperti bentuk rumah, perkawinan masing-masing sudah diatur oleh adat untuk membedakan derajat masing-masing sesuai dengan tingkat golongan kasta.

Kerajaan Siang Versi OPPOKA ri Paccelang
Menurut keterangan Karawi Dg. lampa Imam Paccelang salah seorang tua adat yang pernah memiliki Lontara Bilanna Pacellang di tahun 1950, mengatakan bahwa sebelum kerajaan lahir kampung Pacellang hanya dipimpin oleh seorang ketua Adat yang dipertuah yang digelar dengan “Katoanga” . Inilah yang membentuk kelompok perkampungan dan ketua-ketua kelompok kemudian disebut “Anrong Tau” selanjutnya disebut Anrong parrasangang, kemudian bergabung dengan 4 kampung / Parassangang barulah diberi nama Anrong Appaka dibawah naungan/Katoanga ( ) = Ketua Adat.
Sama halnya di Gowa sebelum Gowa menjadi kerajaan besar Gowa hanyalah gabungan dari 9 kampung kemudian digelar Benteng Salapanga ri Gowa dan baru setelah hadir Tumanurung Benteng Salapanga Barokah menjadi Kasuwiyang Salapanga ri Gowa karena ke sembilan kampung mengabdi pada Tumanurung. Setelah perang Gowa dengan VOC, Kasuwiyang Salapanga turut mengambil bagian dan masing-masing memiliki bendera tanda kesatuan = (panji) maka Kasuwiyang Salapanga berubah menjadi Bate Salapanga ri Gowa. Artinya sembilan bendera / panji akan bergabung menghadapi VOC.
Demikian halnya kerajaan Siang yang lebih tua dan lebih dulu lahir daripada Gowa yang dipercayai oleh rakyat Pacellang Pangkaje’ne. Rajanya adalah seorang Tumanurung yang turun dari langit, seorang perempuan yang cantik lengkap dengan pakaian kebesaran yang tidak dikenal asal-usulnya yang dipercayai turun dari khayangan mewakili Puang Seuwak yang membawa ornamen yang disebut “Kalompoanga” yang sampai saat itu tahun 1971 masih ada tersimpan di istana Kalompoanga di Kalijagong Pangkaje’ne.
Pada tahun 1930 sampai dengan 1945, masih sering diadakan Pappalilikang dari Pangngaleyang sebagai acara tahunan turun sawah dari Sappadekoang sebagai acara syukuran atau keberhasilan pertanian diiringi kesenian Pakarena, Pamingki dan Padendang. Untuk memnghormati Tumanurunga yang diberi nama Sari Wulan dan nama lain ornag beri nama Nasewuleng.
Keteranagan Karawi Dg. Lappa ini diperkuat oleh keterangan Dg. Baranna salah seorang tua-tua adat yang menjadi panutan masyarakat pada masanya.
Beliau pernah juga memiliki Lontara yang banyak mengungkapkan hubungan Gowa Tallo dengan Siang.
Menurut Dg. Baranna bahwa seorang pendatang yang tidak diketahui asal-usulnya turun dari langit di Nita dan dibangunkan istana Balla Lompoa di Pacellang yang terkenal sampai sekarang dengan sebutan Pastanaya =(tempat istana) kemudian diberi nama Sariwulang =(cahaya bulan) nama lain (Nasewulan) = sinar bulan. Apapun konsep pemerintahannya tidak banyak diketahui karena tidak ada keterangan dari apapun baik berupa tutur maupun berupa tulisan dari Lontara yang menerangkan hal itu.
Kecuali ada satu petunjuk dari beberapa nyanyian Pakarena sebagai warisan budaya nenek moyang kita yang dapat dijadikan pegangan bahwa sebelum lahirnya Siang konsep yang dipakai oleh “Katoanga” ialah sistem perwakilan dengan nama Dewan Pemangku Adat Anrong Appaka. Setelah Tumanurung turun dari langit konsep ini dijadikan acuan menjadi Anrong Appaka ri Siang.
Menurut orang-orang tua dulu-dulu kata Siang itu berasal dari seorang Tumanurung di Luwuk yang diberi nama Embong Bulan yang artinya sama dengan cahaya bulan kawin dengan Palipada Raja Enrekang yang melahirkan kerajaan Massenrempulu.
Diceritakan pula dari satu kisah tutur orang-orang tua dulu di Pacellang termasuk Dg. Baranna bahwa Tumanurung itu memiliki wajah yang cantik melebihi kecantikan wanita lainnya sehingga tersohor kemana-mana dan terdengar oleh seorang Raja yang digelar Karaeng Iballe kemudian diketahui adalah Karaeng Bajo Manurungan ri Gowa yang membawa pula ornamen Kalompoanga ri Gowa dan mempersunting Ratu Siang.
Menurut kepercayaan orang-orang Pacellang di Pangkaje’ne bahwa atas perkawinan Karaeng Bajo Manurunga di Gowa dan ratu Siang Manurunga ri Nita. Pacellang adalah cikal bakal lahirnya kerajaan Gowa dan dibangunkan istana Balla Lompoa di Tamalatea dan dilantik di Takabbasi.
Dikatakan “Tamalatea” karena pada waktu istana itu dibangun ratusan bahkan ribuan orang masuk di hutan utnuk menebang kayu buat ramuan istana Balla Lompoa di Gowa. Karena banyaknya orang membangun istana Balla Lompoa tersebut sehingga dibangun itu juga dan dinaiki hari itu juga sehingga daung kayu yang di buat ramuan belum layu. Istana Balla Lompoa sudah selasai maka diberi nama Tamalatea artinya daun kayu belum layu istana sudah selesai. (
)
Demikian keterangan Daeng Lappa, Imam Pacellang yang pernah memiliki Lontara Bilanna Pacellang dan dibenarkan oleh Daeng baranna yang pernah juga memiliki Lontara Ana Gowa.
Atas perkawinan Ratu Tumanurunga ri Siang dan Karaeng Bajo Tumanurunga ri Gowa lahirlah kerajaan sedarah = Julu Cera’ Gowa Tallo kerajaan kembar dan menganggap serumpun bambu. Dan melahirkan kerajaan Makassar dikemudian hari. Pendapat lain baca halaman 130.
Adapun konsep pemerintahannya yang terkenal ialah Anrong Appaka ri Siang yang artinya empat ibu yang mengasuh kerajaan Siang.
Anrong Appaka ri Siang terdiri dari :
1. Lolo = ( ) = Juru bicara
2. Pacalla = ( ) = Penegak hukum
3. Tubarani = ( ) = Panglima perang
4. Tunirannuang = ( ) = Bendaharawan

Arti Anrong Appaka ri Siang
Yaitu empat induk Dewan Pemangku Adat yang bersatu, sepakat, seiyah, sekata sehidup semati sepenanggungan menjunjung tita Baginda melindungi Kerajaan dan kepentingan rakyat membatasi kekuasaan mutlak Raja dan melaksanakan pemerintahan harian yang tidak digariskan oleh Raja dan disepakati oleh Dewan Anrong Appaka sendiri.


Tugas Anrong Appaka
Tugas dan kedudukan Anrong Appaka dalam Kerajaan Siang merupakan Dewan Pemengku Adat yang bertugas dan bertindak atas nama Raja dan Dewan untuk melaksanakan Pemerintahan harian guna membatasi kekuasaan mutlak Raja dan mempunyai tugas pokok sebagai berikut :
1. Lolo berkedudukan di Sengkae merupakan juru bicara, penyambung lidah rakyat kepada Raja atau sebaliknya, sekertaris Kerajaan, menyampaikan berita, informasi, penerangan baik dari Raja untuk rakyat maupun sebaliknya untuk kepentingan umum. Menerima duta atau bertindak sebagi duta penghubung dari Kerajaan lain.
Untuk menjadi Lolo juru bicara diperlukan orang yang cerdas, cekatan dan cendekia menguasai bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami.
2. Paccala berkedudukan di Paccellang bertugas sebagi penegak hukum dan bertanggung jawab atas tegaknya hukum dan keadilan bagi seluruh Rakyat dan menjunjung tinggi hukum adat baik yang tertulis maupun yang tersirat dalam lingkungan masyarakat.
Untuk menempati jabatan ini seseorang harus memiliki pandangan yang luas pandai menempatkan diri, jujur dan tidak memihak, takut pada diri sendiri dan takut kepada penciptanya.
3. “Tubarani” Pangliam aperang berkedudukan di sebatua Baru-baru bertugas menjaga keamanan dan ketertiban umum baik dari dalam maupun dari luar, menjaga ketentraman rakyat dan wilayah Kerajaan Siang.
Untuk menduduki jabatan ini diperlukan tanggung jawab, jiwa patriotik berani dan bertanggung jawab punya mental yang prima tegas dan bijak, berjiwa baja, bertangan besi, disiplin menjalankan tugas yang diemban.
4. Tunirannuang (Parannung) yang berkedudukan di Lesang bertugas dan diberi kepercayaan untuk mengurus biaya dan pendapatan belanja Kerajaan, mengatur ekonomi kerakyatan, mencari dan melaksanakan sumber pemasukan kas Kerajaan melalui bea barang susun pasar dan sumber lainnya dan mengurus sosial kemasyarakatan sebagai bendaharawan Kerajaan.
Untuk menduduki posisi ini diperlukan orang yang dekat dihati rakyat, jujur, berjiwa sosial ekonomi pandai mengatur sasaran ekonomi pertanian, perkebunan, peternakan, kerajinan perdagangan umum melalui pembangunan pasar Matojeng dan pasar Camba.
Keempat antong dan induk inilah yang menjalankan Pemerintahan harian, sedang Raja hanya tinggal diistana Balla Lompoa karena itu dinamakan OPPOKA (Raja yang bertahta) jabatan tertinggi ke Kerajaan Siang pada abad ke XVI.
Adapun konsep perjanjian antara Ratu dan Dewan Pemangku Adat penulis belum pernah mendengar baik melalui tutur maupun melalui tulisan lontara dari tua-tua adat kecuali ada beberapa bentuk nyanyian pakarena yang sangat populer dikalangan rakyat pada masa itu dapat dikategorikan sebagai perjanjian antara Ratu dan Dewan Pemangku Adat Anrong Appaka ri Siang seperti berikut ini.
1.
Sombal Karaeng

Iyangku Bassung

Kupanai ri ulungku

Iyangku maweke-weke
Artinya : Hamba menyembah Raja dan menjunjung tinggi diatas kepalaku untuk mengahindari kutukan supaya terhindar dari penyakit yang tidak akan sembuh = (berkepanjangan)

2.
Karaengku ji Inakke

Iyapa sunggu

Kukellai tasalasa

Naniya todong te`nee ku
Artinya : Baginda selalu bahagia dan bergembira terhindar dari mala petaka. Apabila Baginda sejahtera dan bahagia. Hamba akan turut berbahagia menikmati kesejahteraan.
3.
Adakaji paleng tojeng

Talara` bawang

Iyaji ranrang tatappu

Punna battu barubua
Artinya : Adat itulah paling benar hai Tuanku. Adat ibarat tali jangkar kokoh kuat tidak akan putus sekalipun ditempah ombak badai angin barubu (Apabila Baginda berpegang kepada Adat Jabatan Baginda tidak akan putus).
4.
Punna ada nidongkoki

Benteng tatimpung

Rapangi ballassibatu

Pattongko takatiroang
Artinya : Kalau Paduka yang mulia duduk berdasarkan adat. Ibarat rumah bangunannya kokoh pandasi dan tiangnya kuat atau pun tidak akan bocor demikian kedudukan Baginda apabila berpegang kepada adat. Kedudukan Baginda tetap kuat dan kekal.
Semua nyayian ini barang kali dapat dikategorikan sebagai konsep perjanjian antara Ratu dan Dewan Pemangku Adat Anrong Appaka ri Siang.
Pepata Makassar mengatakan / Artinya renungan dan pikiran itu lebih tua dari adat karena itu setiap apa yang akan diperkuat harus lebih dulu dipikirkan dan direnungkan termasuk Dewan Pemangku Adat Anrong Appaka.
Anrong Appaka ti Siang sama halnya empat Paddoring di Panmama empat Pangngepa di Soppeng dan Panggemdong di Mandar dan banyak lagi Dewan Adat yang berlainan namanya menurut kebutuhan Kerajaan.
Hampir semua Dewan Pemangku Adat menjadi pelaksana Pemerintahan harian guna membatasi kekuatan mutlak Raja. Kecuali Wajo tidak mencampuri urusan pemerintahan Pusat hampir sama dengan demokrasi terpimpin.
Jadi pemerintah Kerajaan Siang itu menganut sistem musyawarah untuk mufakat guna mengambil keputusan dan menjadikan hukum itu sebagai Panglima sampai rakyat menjadi sadar hukum:( ).
Demikianlah gambaran pemerintahan Kerajaan Siang dari semula sampai selanjutnya dengan gelat OPPOKA ri Paccelang.

Arti OPPOKA
Menurut bahasa OPPOKA berarti tetap dan berdiam bertahta di Istana Balla Lompoa.
Jadi OPPOKA itu bukan nama orang perseorangan tetapi nama jabatan mungkin berasal dari OPU di Luwu kemudian di rubah menjadi OPPO dalam bahasa Makassar berarti tetap tidak ada perubahan. Jadi OPPOKA itu namanya jabatan tertinggi di Kerajaan Siang seperti Bupati, Kepala Kecamatan, Kepala Kelurahana dan Kepala Desa bukan nama orang OPPOKA itu adalah Raja yang bertahta hanya bersemayam di Istana Balla Lompoa didampingi oleh “Katoanga” sebagai ketua Adat merangkap Penasihat. Adapun pemerintahan harian ditangani oleh Dewan Adat Anrong Appaka.
Raja atau OPPOKA baru bangkit apabila ada permasalahan diantara Dewan Anrong Appaka atau Kerajaan terancam negeri dalam keadaan bahaya / perang.
OPPOKA hanyalah simbol pemersatu rakyat menjaga kesatuan dan persatuan yng sangat dihormati dan didambakan oleh rakyat dengan ungkapan = Bersabdalah Tuanku (Baginda) dan hamba akan mematuhi dan melaksanakannya. Baginda ibarat jarum dan hambalah menjadi benang. Apabila jarum bergerak maka benang akan ikut. Baginda adalah angin apabila angin bertiup dahan akan bergerak dan daun berguguran, Baginda adalah air yang mengalir dan hamba hanya kayu yang hanyut. Demikian besar kekuasaan dan kewibawaan Raja dengan jabatan OPPOKA di Paccelang. Jabatan OPPOKA ini diperkirakan lahir pada abad ke XVI sesudah Agama Islam masuk ke Kerajaan Siang.
Pengertian dan jabatan OPPOKA ini hampir sama dengan jabatan OPU di Luwuk atau Datu di Luwuk hanya tinggal di Istana seperti terungkap ilmu Lontara Luwuk .
/ Artinya : Raja atau datu itu tidak dihembus oleh angin (dingin). Raja atau Datu hanya berbaring membungkus kepala sampai kaki (Berselimut) baru Raja atau Datu bangkit apabila anggota Dewan Adat membangunkannya dan Raja baru aktif apabila ada permasalahan di Dewan Adat atau negeri dalam keadaan darurat perang.
Demikianlah sekedar pengertian OPPOKA ri Paccelang dari beberapa orang tua dulu tentang arti OPPOKA.
Baru setelah karaeng Barasa berkuasa istilah OPPOka diganti dengan Karaeng dan Dewan Anrong Appaka diganti dengan KARE Dae dan lain-lain, KARE Baru-baru, KARE Lesan, KARE Kajuara, KARE Pallateang (Kerajaan Siang Loe) abad ke XVIII.

Raja-Raja Yang Pernah Berkuasa di Siang
Diantara Raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Siang sesudah Tumanurung atau sebelum Agama Islam masuk diantaranya bernama dan digelar I Bodo Banda, mungkin perawatannya pendek kemudian diberi nama simbol I Bodo Banda artinya Raya yang pendek. Sama halnya dengan Karaeng Pangkajene di tahun 40-an namanya Patta Pance artinya Karaeng Bodo-Bodoa karena perawatannya pendek =(I Bodo Banda artinya sangat pendek) yang menjadi Raja Siang ini sangat erat hubungannya dengan orang-orang Portugis sehingga mudah dipengartuhi dan menerima Agama Katolik dan di Baktis dengan nama Dong Yoang bernama Raja Suppa Lamakkarawie dengan nama Dong Luis yang erat hubungannya dengan seorang Pendeta Portugis yang bernama Antong de Vaira dan mendirikan Gereja di Pangkajene tahun 1543 dengan nama Santo Rafail berarti Kerajaan Siang pernah menerima Agama Katolik abad ke XV sebelumnya beragama Budha dan Hindu sebagian menganut animisme.
Seperti di kisahkan bahwa pelabuhan Siang adalah tempat singgah para pedagang Portugis dan saudagar-saudagar lainnya terutama saudagar dari negeri Melayu yang membawa juga misi Agama Islam maka oleh pedagang Portugis yang mengembang misi Agama untuk segera memikat Raja Siang I Bodo Banda dan menghadiri seorang gadis cantik untuk dijadikan Ratu dan Permaisuri, karena itu ada pendapat bahwa Kerajaan Siang Rajanya orang Portugis, Kemudian digelar Tau Lauti artinya orang dari Barat I Bodo Banda sendiri teyai rurung kalau = artinya I Bodo Banda sendiri tidak mau dikatakan orang Barat dan tidak mau ikut ke Barat seperti sindiran nyanyia berikut ini.

Toweng ri bambo de

Tonre rapponna de

I Bodo Banda de

Tau I Laut de

Gigi ejana de

Ti`no mattontong de

Intang bunganna de
Toeng ri tanre rapponna

Tanre padding kolenganna

Teyai rurung kalau

Makkilo-kilo giginna

Gigi bulaeng ti`no`na

Jamarru napattontongi

Bulaeng ti`no rapponna
Di nyanyian ini menyaroti I Bodo Banda sebagai Tau I Laut / Orang dari barat tetapi I Bodo Banda menyakal dengan tidak mau ikut ke Barat sekalipun istrinya orang barat yang cantik giginya berkilauan karena memakai gigi emas murni yang diselingi permata Jamrut penuh perhiasan lainnya yang ditata dengan permata intan / ma`nikkan.
Demikian godaan I Bodo Banda sehingga dirinya dapat dikuasai oleh orang-orang Portugis.
Namun kekayaan, kecantikan itu bukan abadi bahkan digambarkan dalam nyanyian itu I Bodo Banda seakan-akan dibuai harta yang tidak memakai tangkai dan buahnya akan gugur tidak ada berkahnya.
Demikian keterangan H. Pua Dg. Parukku yang dianggap budayawan pada masanya.
setelah Agama Islam masuk di Sulawesi Selatan pada abad ke XVI. Raja Luwuk yang bernama Lapatiroi Dg. Parambung lebih dulu menerima Agama Islam pada tahun 1605 dan bergelar Sultan Muhammad. Mungkin beliaua menerima Islam pengaruh dari Sultan Ternate.
Selanjutnya Kerajaan Siang lebih dulu menerima Islam daripada Gowa dan Tallo yang di kembangkan oleh seorang saudagar yang bernama Anak Kuda Bonang berasal dari Negeri Melayu oleh karena ditolak oleh Raja Siang pada waktu itu Rajanya beragama Kristen maka beliau pindah ke Gowa dan Tallo karena beliau diterima dan mendapat perlakuan istimewa. Sekali pun ajaran Agama Islam sudah banyak yang diterima di wilayah Siang utamanya Pandang Laut tempat berlabuhnya perahu Anak Kuda Bonang yang meninggalkan toddo biseyanna yang sampai sekarang masih dikenal dengan nama Toddoka.
Baru setelah Islamisasi Gowa Tallo dan menyerang Siang kemudian menerima Islam sepenuhnya. Ada pendapat bahwa Anak Kuda Bonang adalah murid / santri dari Sunagn Bonang.
Raja-raja yang pernah berkuasa sesudah Islam masuk di Kerajaan Siang, antara lain :
Titi Dg. Majannang :
1. Karaeng Tojeng = ( OPPOKA ri Paccelang)
2. Karaeng Tappa = sda
3. Karaeng Allu = sda
4. Loe Tappasa = sda
5. Karaeng Maralleng (dari Lingga Riau) OPU
6. Karaeng Johoro (Dari Gariaman) OPU
7. Lambeang Dg. Sibali (Karaeng Barasa)
8. Pacanata Dg. Siruwa sda
9. Muhajeng Dg. Pasore sda
10. Sollerang Dg. Mallejja (Karaeng Pangkajene / Wedana) Lihat halaman 185
Diantara nama-nama Raja Siang tersebut diatas Karaeng Allulah yang paling banyak disebut-sebut sebagai Pahlawan yang tidak dikenal Jasanya.
Beliau dan Raja Gowa sangat menentang kahadiran VOC / Belanda yang dianggap kafir itu.
Karaeng Siang dibawah pimpinan Raja Allu berkuasa pada akhir abad ke XVI masa perang Gowa melawan VOC dan Siang bergabung dengan Gowa dan Tallo dibawa pimpinan Sultan Hasanuddin yang melahirkan Kerajaan Makassar.

PEMERINTAHAN KARAENG ALLU Abad Ke XVI
Wilayah Kerajaan Siang dibawah pimpinan Karaeng Allu menurut orang-orang tua dulu berbatas.
Sebelah utara dengan Kerajaan Tompo Bulu
Sebelah selatan Binangan Sangkara
sebelah Barat dengan selat Makassar
Sebelah Timur dengan Kerajaan Barasa
Organisasi Pemerintahannya
Kerajaan Siang diperintah oleh seorang Raja bernama Karaeng Allu dan didampingi oleh seorang penasihat yang diberi nama Katoanga, ketua adat yang dipertuah dan dibantu oleh Dewan Adat anrong Appaka ri Siang dibawah naungan Kerajaan Gowa dan Koordinator Kerajaan Tallo sekaligus mengendalikan pemerintahan harian.
Karaeng Allu sendiri hanya tinggal di Istana Balla Lompoa menunggu laporan dari pelaksana harian Anrong Appaka. Baru beliau bangkit apabila ada perbedaan pendapat dari Dewan Pemangku Adat Anrong Appaka atau negeri dalam keadaan darurat perang, berkedudukan di Paccelang ibu kotanya Kasuarrang sebab itu disebut OPPOKA.
Setiap apa yang akan diputuskan Raja selalu meminta pertimbangan dan pendapat dari Katoanga sebagai Ketua Adat, sekalipun keputusan berada ditangan Raja sendiri. Tetapi ketentuan adat demikian selalu berpedoman kepada Patwa. / Artinya adat itu lebih tua daripada pelaksanaan / Artinya pemikiran dan renungan itu lebih tua dari adat.
Pemikiran dan renungan jauh lebih tua daripada adat, karena itu sesuatu sebelum mengambil keputusan untuk dikerjakan lebih dulu dipikirkan untuk menjadi ketentuan adat.
Inilah kebujakan Karaeng Allu selaku Pemangku kekuasaan Kerajaan Siang dan Raja-raja sebelumnya sesudah Tumanurung yang dianggap pemilik Kerajaan dan Kalompoanga.
Selain penasihat Kerajaan Siang juga memiliki peramal yang disebut “Boto” yang diungkap cendekia yang pintar meramal situasi dan keadaan kerajaan.
Pada intinya jauh sebelum bangsa asing masuk di Sulawesi ini Kerajaan Siang sudah mengenal pengorganisasian pemerintahan dengan istilah “Katoang” dan Anrong Appaka dengan motto

Artinya:
Bersabdalah Baginda hamba akan melaksanakannya. Baginda ibarat jarum dan hamba menjadi benang. Apabila jarum bergerak maka benang akan ikut.
Motto dan semboyan inilah yang dipakai pedoman dan pegangan hukum dari sumber hukum yang ada untuk menjalankan pemerintahan dan memacuh pertumbuhan ekonomi melalui pertanian, perkebunan, peternakan, kerajinan dan perdagangan umum serta menjaga kelestarian budaya peninggalan leluhur.
Raja dan aparatnya terutama Dewan Anrong apabila sangat hati-hati dan bijaksana dalam menjalankan tugas.
Seluruh kata dan ungkapan tugas dan perintah yang disampaikan kepada rakyat senantiasa mengandung makna nilai dan manfaat sehingga semboyan Akkanamaki Karaeng sebagai penjabaran perintah dilaksanakan dengan ikhlas dan penuh kesungguhan oleh rakyat dengan kalimat berikut : Nainakke manggaukang. Rakyat akan mematuhi perintah dan tita Baginda. Musyawarah dan mufakat selalu diutamakan antara Raja dengan Dewan Adat Anrong Appaka sebagai pelaksana keputusan dan kebijakan Raja. Tudang Sipulung ammempo sipaka tau merupakan semboyan Kerajaan Siang dan Anrong Appaka.
Raja dan Dewan Anrong Appaka senantiasa menjadi suri tauladan serta panutan rakyat sebagi pengalaman I Katte Jarum (Raja dan Dewan Anrong Appaka) sebagai jarum yang menuntun rakyatnya kemudian disusul dengan ungkapan I Nakke Bannang Panjai. Rakyat sebagai benang yang mengikuti jarum (Raja yang bijaksana). Apabila jarum bergerak benang akan ikut. Raja juga sebagai angin dan rakyat sebagai pohon. Apabila angin bertiup dahan akan bergerak dan daun akan berguguran. Raja juga sebagai air yang mengalir dan rakyat sebagai sepotong batang apabila air mengalir batang akan hanyut mengikuti arah air yang mengalir.
Dengan demikian terciptalah suasana yang harmonis antara Raja sebagai pemimpin yang bijak dan Dewan sebagai pengasuh serta rakyat sebagai pengabdi yang taat, hingga tidak mengherankan apabila suasana keamanan, ketertiban dalam Kerajaan Siang pada waktu itu sejuk damai di hati dan pada gilirannya kemakmuran, kesejahteraan serta keadilan sosial dirasakan oleh Rakyat, sehingga menumbuhkan gairah hidup dan motivasi kerja dan motivasi kerja berkarya semakin bergairah.
Karaeng Allu mengajak dan menghimbau Rakyatnya untuk memanfaatkan sumber daya alam yang terdapat dalam wilayah Kerajaan Siang utamanya pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan serta kerajinan rumah tangga menjadi sumberhidup sehari-haridan memeliharabusaya peninggalan leluhur sebagai peninggalan sejarah.
Kerajaan Siang Terpecah
Sebelum VOC/ Belanda datang di Sulawesi keadaan Kerajaan-Kerajaan cukup aman dan damai termasuk Kerajaan Siang Tallo dari Gowa serta kerajaan Bugis, Bone, Barasa, dan Tanete. Baru setelah VOC/ Belanda masuk di Sulawesi Selatan Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone serta Kerajaan lainnya sering terjadi komplex bentrok, ketegangan antara satu Kerajaan dan kerajaan lainnya termasuk kerajaan siang dan kerajaan Barasa Gowa dan Bone atas pengaruh politik adu domba VOC / Belanda. Apalagi setelah terjadi dan pecah peperangan Gowa dibawah pimpinan Sultan Hasanuddin dengan VOC / Belanda yang dikomandoi oleh gubernur Jenderal Supelman dibantu oleh Bone yang dipelopori oleh I Tanritatta Aruppalakka Petta Malampee V.
Peperangan ini meluas dan menjalar serta melibatkan Kerajaan-kerajaan kecil yang bernaung dibawah kerajaan Gowa dan Tallo sedang Bone berpihak kepada VOC / Belanda karena kecewa terhadap perilaku Gowa atas Bone dan memperbudak rakyat bugis.
Gowa Tallo dan Siang yang bergabung dalam Kerajaan Makassar secara bersama-sama bersatu mengadakan perlawanan terhadap VOC / Belanda untuk mengusir dan membendung pengaruh VOC / Belanda yang pada mulanya datang hanya ingin berdagang rempah-rempah, namun selanjutnya ingin menjajah dan menguasai Nusantara khusunya Sulawesi utamanya Kerajaan Makassar, Gowa, Tallo dan Siang.
Sebelum peperangan dimulai sudah tersiar berita dan isu bahwa ada bangsa yang memerangi Kerajaan Makassar, khususnya Gowa dalam bahasa Lontara dikatakan Yang artinya :
Ada musuh yang ingin memerangi Gowa orang bule matanya putih kelabu, dadanya kemerah-merahan, perawatan tinggi dan tidak memiliki jari-jari kaki. Aneh tetapi nyata karena memakai sepatu sedang sepatu pada masa itu belum dikenal oleh rakyat banyak.
Berita ini menggemparkan seluruh kerajaan karena dianggap orang aneh, termasuk Siang yang tetap mengambil sikap mendukung kebijaksanaan Raja Gowa dibawah pimpinan Sultan Hasanuddin mengadakan perlawanan terhadap VOC.
Karaeng Allu segera mengadakan musyawarah dengan Dewan Pemangku Adat Anrong Appaka untuk menentukan dan memutuskan bergabung dengan kerajaan lainnya dibawah koordinator Raja Tallo guna memperkuat barisan melawan dan menghadapi VOC / Belanda yang ingin menjajah Kerajaan Makassar, Gowa, Tallo dan Siang.
Sifat keras kerajaan Siang untuk menentang dan melawan VOC merupakan manipestasi dari semboyan yang dipegang teguh oleh rakyatnya lebih baik mati berkalang tanah daripada dijajah oleh orang kafir VOC ( )
Sikap keras ini tetap dimiliki oleh Karaeng Allu yang berjanji akan memimpin sendiri Tabbala Tubaranina kemedan perang melawan Company sampai titik darah terakhir.
Beliau akan meninggalkan Kerajaan dan kekuasaannya untuk membela harga diri dan kerajaan Makassar dari bentuk penjajahan, sekalipun beliau juga sedih karena akan berpisah dengan rakyatnya yang dia cintai dan patuh padanya. Demikian sebaliknya rakyatnya turut bersedih karena ditinggal oleh Rajanya yang bijaksana( Tutur Dg. Baranna)
Kekuasaan dan pemeritahannya akan diserahkan kepada Dewan Pemangku Adat Anrong Appaka ri Siang sebagai pelaksana harian selama beliau pergi, dan ditunjukkan serta disetujui bersama Dewan Adat melalui musyawarah ”Paccallaya” yakni Loe Pappasa dengan jabatan OPU disertai ucapan : / yang berarti suatu waktu apabila Tuhan mentakdirkan masih hidup dan kembali dengan selamat kekuasaan dan jabatannya dapat diduduki kembali.

Keputusan ini diambil oleh Karaeng Allu selaku pemangku Kerajaan Siang demi keutuhan Kerajaan Makassar dan disetujui oleh Dewan Anrong Appaka.
Dengan demikian Loe Pappasa tidak dapat menolak amanah pemberian dan pengalihan jabatan Pemangku Kerajaan Siang pada dirinya dan berjanji akan menjaga amanah ini sebaik-baiknya dan akan mempererat hubungannya dengan Kerajaan Tallo beliau anak / Putra dari Titi Dg. Majannang, sedang Titi Dg. Majannang adalah Putri Raja Tallo dan Loe Pappasa adalah cucu dari Karaeng Tallo. Bagi Loe Pappasa tugas yang diembannya sangat berat tetapi mulia dan suci adanya = (Lontara Indah Tanang).
PERPISAHAN dan PENYERAHAN KEKUASAAN
Penyerahan kekuasaan dari Karaeng Allu kepada Loe Pappasa sebagai pelaksana kekuatan dan Pemerintahan dengann Jabatan OPU dilaksanakan dan diserahkan di Istana KerajaanSiang yang ditandai dengan penyerahan Bongan Cindeya = ( ) sebagai lambang tahta Kerajaan yang sangat dijunjung tinggi dan dihormati. Penyerahan kekuasaan ini disaksikan oleh Pembesar Kerajaan, terutama Katoanga sebagai Ketua Adat dan penasihat Kerajaan serta Dewan Pemangku Adat Anrong Appaka dengan satu ungkapan dari Karaeng Ngallu ( ) maksud dan tujuannya sudah diterangkan.
Setelah acara penyerahan sudah selesai oleh Karaeng Ngallu ditentukan hari pemberangkatannya serta persiapan pasukan Tabbala pemberani khusus untuk segera bergabung dengan pasukan pemberani lainnya dibawah koordinator Kerajaan Tallo yang terkenal dengan Pasukan “Macan Keboka ri Tallo”.
Konon perpisahan itu dilakukan di muara sungai Paccelang antara muara sungai Binanga sang hari dan Binanga Polong dengan perahu “Sorong Lopia” dikaisar dibawah oleh pemberani Pallapa Barambang sebagai pasukan inti didampingi oleh Dewan Anrong Appaka menuju tempat yang telah ditentukan dan menunggu waktu-waktu yang terbaik.
Setelah berlabuh sampai tengah malam dalam suasana hening menunggu angin darat untuk melanjutkan perjalanan ke Taloo, tiba-tiba Karaeng Allu memberikan aba-aba dan komandu dengan ucapan = = Bongkar jangkar naikkan gala cabut samparaja kita songsong dan hadapi laki-laki yang sombong dan kafir itu = VOC / Belanda.
Sesaat setelah jangkat diangkat samparaja dicanut Karaeng Allu mengambil gala atau “Toddo” biuyang dan menancapkan kelaut dimuara sungai Paccelang sambil mengucapkan kata terakhir / Artinya disinilah saya titip jiwa dan hidupku karena saya yakin ragaku tidak akan kembali lagi. Selamat tinggal rakyatku..Selamat tinggal negeri / tutur H. Pua Dg. Parukku.
Dari sinilah asal mulanya Toddoka ri muara sungai Paccelang sebagai simbol kepahlawanan Karaeng Allu Raja Siang pada akhir abad ke XVI dan samapi sekarang Toddoka masih dilestarikan oleh rakyat sekalipun dudah ratusan tahun sesudah kejadian ini. Sudah ada sekitar 200 batang tiang lilin dari berbagai ukuran ditancapkan oleh Rakyat sebagai peringatan tanah salut atas ke Pahlawanan Karaeng Allu dan digelar oleh rakyat : / Artinya :
Beliau hilang tidak diketahui kuburnya tetapi tetap dikenang berada di Negerinya.
Kepercayaan lain lahirnya “Toddoka” di muara sungai Paccelang ialah pada waktu anak Koda Bonang yang dipercayai seorang Saudagar Penganjur Agama Islam berlabu dimuara sungai Binangan Sangkara yang menjadi pelabuhan Kerajaan Siang dan membangun pondok di Pandang laut untuk mengembangkan Agama Islam dan diberi nama Tuan Pandang Laut karena beliaulah yang memberikan nama kampung Pandang Laut.
Karena beliau berbulan-bulan berlabuh dan menggunakan gala atau toddo biseanna sebagai jangkar, setelah pindah ke Gowa Tallo untuk mengembangkan Agama Islam beliau diterima oleh Raja Gowa dan Tallo dan diberikan hak istimewa. Toddo biseanna sengaja ditinggalkan dan berjanji akan kembali lagi ke Siang untuk menyebarkan Agama Islam dalam Islamisasi Gowa Tallo dan Siang menerima Islam secara resmi.
Jadi kejadian kedua peristiwa inilah yang diyakini sebagian rakyat atas keberadaan Toddoka yang sampai saat ini masih lestarai dan dilestarikan oleh rakyat sebagai simbol ke Pahlawanan, bahkan ada yang menganggap dan mempercayai “Toddoka” itu simbol pengganti Kuburan Karaeng Allu dan anak Kuda Bonang.
Selanjutnya Karaeng Allu memnrikan semangat kepada pasukannya dengan ucapan = / Maksudnya, alam dan sekitarnya akan bersaksi dan menyaksikan jiwa muda pembela tanah air melayani gelombang badai yang berkecamuk. Layar sudah berkembang, kemudian sudah terpasang pantang mundur mengadapi lawan sekalipun nyawa taruhannya. Kemudian disambung dengan ucapan sebagai berikut :
Maksudnya :
Beliau tahu persis bahwa angin ribut akan datang namun layar sudah terpasang lebhi baik mati tenggelam daripada kembali tanpa usaha. Artinya beliau tahu bahwa musuh lebih lengkap persenjataan yang akan menyerang tetapi beliau tidak gentar lebih baik mati daripada menghianati bangsa.
Dengan pantun ini sebagai symbol untuk memacu semangat juang guna menghadapi musuh. (masih adakah jiwa pelanjut seeperti ini?).
Kemudian oleh pemerintah kabupaten Pangkep kembali mengabdikan symbol tersebut dengan singkatan = ( ).
Perpisahan ini menjadi pendorong semangat dan motivasi Dewan Anrong Appaka untuk lebih hati-hati dan bersungguh-sungguh menjalankan tugas roda pemerintahan, Tersuhur Loe Pappasa sebagai pemenang amanah dan pengandali pemerintahan Kerajaan Siang. Dalam situasi yang kurang bersahabat ini akibat peperangan antara Kerajaan Makassar, Gowa, Tallo, dan Siang dengan VOC dan waspada dari musuh-musuh perpakator dan adu domba VOC( Lontara dari Dg. Baranna yang pernah menjadi Lom\ntarana Gowa). Mari kita miliki jiwa kepahlawanan Karaeng Allu tanpa meminta jasa dan jangan dikultuskan menjadi berhala untuk didewa-dewakan, hindari kemusyrikan. Toddoka lebih baik dibangun sanggar budaya.

PEMERINTAHAN LOE PAPPASA SEBAGAI OPU
Seperti disebut sebelumnya bahwa pasangan Karaeng Tappa dengan Titi dg. Majennang Putri Karaeng Tallo membuahkan empat anak/ keturunan, salah seorang di antaranya bernama Loe Pappasa alias Loeppasang dan beliaulah yang yang selalu mendapat Jabatan penting di Kerajaan Siang, seperti Dewan Pemangku Adat Anrong Appaka dengan kedudukan “Paccalla”(penegak hokum) kemudian diserahi lagi tanggung jawab yang lebih berat menjadi pemangku kekuasaan Kerajaan Siang dengan jabatan OPU yang di dampingi oleh “katoanga” (Ketua Adat ) sekaligus merangkap anggota Dewan Adat Anrong Appaka ri Siang. Beliau sangat menjunjung tinggi persamaan hak, memberikan perlindungan hak, memberikan perlindungan hukum dan keadilan dalam memutuskan dan pengambilan keputusan sehingga beliau di beri gelar “Paccinongan” artinya menjernihkan perkara dan masalah yang kusud dan keruh dengan seadil-adilnya.
Selain dari itu beliau mengarahkan Rakyat agar supaya meresapi dan manghayati hokum menjadi sadar hokum sehingga beliau mendapat gelar dari tanah Bugis “ Paccinnongan” artinya tempat berlindung, melindungi Rakyat yang benar (memayungi kebenaran keadilan).
Bukan saja kedua gelar itu yang beliau sandang teeapi beliau digelar pula dengan istilah “ Bangkasana Paccelang” artinay suatu gelar tertinggi dalam kesucian hokum. Beliau disimbolkan seekor ayam Jantan putih bersih tanpa warna lain dalam penegakan hukum( ).
Beliau sangant disanjung oleh rakyatnya karena kebijakasanaannya mengambil keputusan campur tangan dan pengaruh dari puhak lain.
Instruktur pemarintahannya tidak banyak berubah. Kecuali beliau diangkat sebagai OPU beliau masih merangkap sebagai Anggota Dewan Pemangku Adat Anrong Appaka dan berkedudukan di Paccelang(kasuarrang)atau kota kerajaan.
Beliau membagi kekuasaannya kepada anggota Dewan Anrong Appaka dan masing-masing membentuk Anrong Tau setingkat dengan “Punggawa” ketua kelompok, Anrong Papparasangan, kare, Dae disetiap kelompok perkampungan dan diberi kekuasaan untuk mengatur kelompoknya sebagai perpanjangan tangan pembentuk kerajaan Siang sesuai hasil persepakatan Dewan Pemangku Adat Anrong Appaka dan tetap berpusat kepada Kerajaan Siang yang dipimpin oleh Loe Pappasa yang bergabung denagn Kerajaan Makassar, Gowa, Tallo.
Jadi pemerintahan Loe Pappasa merupakan perwujudan system demokrasi yang menganut dan mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam bahasa lontara dan mengesampingkan kekuasaan mutlak.
Disat inilah panggilan “Karaeng Sombalata” dan panggilan penghormatan mutlak lainnya mulai berkurang sedikit demi sedikit dan lama kelamaan masyarakat lebih suka menggunakan OPU stsi Loe, Andi dan Daeng sebagai panggilan penghormatan.
Olehnya itu, seakan-akan bahwa rakyat Paccelang enggang memanggil Karaeng dan lebih condong menggunakan OPU, Loe, Daeng dan Andi pada masa itu.
Posisi Dewan Adat AnrongAppaka tetap sama seperti sebelumnya, bedanya karna Loe Pappasa diberi kepercayaan memimpin pemerintahan oleh Karaeng Allu selama beliau belum ada dan hubungan baik dengan raja dan Kerajaan lain seperti Kerajaan Labbakkang, Tanralili Luwuk, dan Kerajaan Bugis lainnya masih moral kecuali Bone dan Barasa yang terpengaruh oleh bujukan dan adu domba VOC yang ingin menguasai Siang secara penuh.
Adapun sumber mata pencarian Rakyat masih bertumpu kepada pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kerajinan rumah tangga serta perdagangan umum melalui pasar matojeng dan pasar Camba.
Demikian yang kami terima kisah tutur dari orang-orang tua dulu sewaktu masih kecil.
Catatan
› Loe Pappasa alias loepassang bersaudara dengan Loe Ramba, Loe Nangka, satu-satunya perempuan yang diberi nama Janggo Bodo. Dari namanya dapat dipastikan bahwa beliau memiliki tahi lalat didagunya yang ditumbuh I bulu-bulu/ rambut yang pendek dan dijuluki Janggo Bodo.
› Keempat putra-putri ini adalah anak dari Titi Daeng Majannang dan Titi daeng Majennang adalah putrid Karaeng Baineya I Jabo daeng Ningai Raja Tallo dari Karaeng Tunijallo yang menjadi Raja di Gowa. Yang melahirkan 8 keturunan diantaranya Titi Daeng Majannang yang menjadi Karaeng Paccelang dan dinobat menjadi OPU yang dikenal OPPOKA ri Paccelang.
› Arung Pallaka I Tanri tatta daeng Serang di gelar juga Petta malampea Gommona MAtindoe ri Bonto Ala.makassar( Sultan Sahuddin)

PERANG BARASA dan PERJANJIAN LALLANG SIPUEYA
Perdamaian tidak dicapai tanpa peprangan kalimat ini mengandung penertian perang unutk damai atau perang untuk mencapai perdamaian.
Setelah Belanda dan VOCnya menang melawan Kerajaan Makassar tahun 1669 yang banyak menguntungkan Belanda, maka dengan muda Belanda menanam pengaruhnya kepada Kerajaan-kerajaan kecil, Selain Kerajaan Bone yang dari semula sudah berpihak kepada Belanda/ VOC dan mengadu domba antara satu Kerajaan dengan Kerajaan lainnya, agar satu dengan yang lainnya bermusuhan dan pada akhirnya sama-sama menjadi lemah dan salah satu diantaranya ada yang meminta bantuan dari pihak VOC/ Belanda. Atau Pihak Belanda berpura-pura menwarkan diri menjadi penengah atau juru damai diantara kedua bela pihak dengan imbalan harus tunduk dan mau diatur oleh VOC/ Belanda paling tidak ikut mengambil keputusan.
Demikian haknya dengan Kerajian Barasa yang bernaung di bawah Kerajaan Bone dengan koordintor Kerajaan Tanete. Sedang Kerajaan Siang bernaung dan bergabung dengan Kerajaan Gowa dan Tallo yang tersohor disebut dengan Kerajaan Makassar turut diadu domba supaya bermusuhan dan berperang dan pihak Belanda menawarkan dukungan kepada Barasa, oleh karena Belanda sangat sulit untuk membujuk dan mengatur Kerajaan Siang yang dipimpin oleh Loe Pappasa karena beliau berjanji akan mengikuti jejak Karaeng Allu musuh utama VOC Belanda. Perang pun tidak dapat terelakkan antara Kerajaan Baraja dan Keranaan Siang. Barasa dibantu oleh Tenritata Dg. Serang Datu Mario ri Wawo Petta Lampea Gommona yang ditujukan kepada Sibatua benteng utama dan pusat pertahanan Kerajaan Siang yang dipertahankan dan dikuasai oleh Tubaraniya guna melumpuhkan Loe Pappasa di Paccelang tetapi serangan itu selalu gagal karena kuatnya pertahanan di Baru-baru untuk melindungi Pemerintahan Loe Pappasa selaku penguasa di Kerajaan Siang.
Seluruh benteng-benteng diperkuat baik yang ada di Baru-baru Sibatua dengan Benteng Manduraya dan parit yang sengaja digali untuk menghalangi musuh yang saat ini dikenal dengan Turunganna Baru-baru maupun benteng-benteng yang ada di Paccelang seperti benteng Bulu-Bulu Tinggi dan bentenga di muara sungai Paccelang yang saat ini sudah jadi empang, demikian pula benteng tua di Sangkae yang dikenal dengan benteng Pappala Sabuka Bulu-Bulu tinggi. Semuanya diperkuat guna melindungi Kerajaan Siang baik serangan dari darat maupun serangan dari laut dan masing-masing dijaga oleh Tabala Tubarani dan dipimpin langsung oleh Tubaraniya dan Lolo Sengka. Serta Tunirannuanga dan Paccalaya guna mempertahankan Kerajaan Siang dari serangan musuh, pasukan khusus dan pasukan inti dari berbagi Tabbala dan Pallapa Barambang siap siaga membanting-banting masing-masing guna berjaga-jaga untuk membendung musuh serangan dari Barasa.
Melihat pertahanan dibeberapa tempat seperti di Batua dengan benteng Manduraya serta parit penghalang yang dipenuhi dengan pasukan pemberani dan masing-masing dipimpin oleh Tubaraniya dan sulit sekali ditembus oleh pasukan Barasa, apalagi pertahanan di muara sungai Paccelang dan Bulu-Bulu tinggi yang diperkuat dengan pasukan inti yang khusus diberi tugas membendung musuh dari laut. Karena itu Barasa mengalihkan perhatian dan lebih memilih membuka serangan dari wilayah Tunirannuang Lesan melalui Pallateang, Pattunuang jonga langga terus ke lejung Loe Matojang pusat persenjataan dan perdagangan Tunirannuanga ri Lesang dan menyeberang di Salottalang berkemah di Bone-bone guna memperkuat pasukannya dengan sasaran pusat pemerintahan dan perdagangan di Sengkae Kerajaan Siang. Tetapi pertahanan Sengkae dengan pasukannya cukup kuat menangkis serangan musuh baik darat maupun laut yang dipimpin sendiri oleh Lolo Sengka.
Dijalur inilah peperangan banyak terjadi sehingga kedua belah pihak banyak korban terutama di ujung Loe yang merupakan pusat persenjataan Tunirannuanga ri Lesan. Pertempuran ini diiringi dengan kelong Ngosong Sindili dan Angngaru guna menaikkan semangat juang para pemberani kedua belah pihak yang berperang.
Perang yang terdahsyat setelah serangan balik pasukan Tunirannuanga yang dipimpin oleh pendekar yang digelar dengan Lappunna Lesan kongkong bolonna Biraeng menyerang Bone-bone tempat perkemahan pasukan Borasa yang dibantu dari pasukan Kerajaan Bone. Pasukan Tunirannuanga juga mendapat bantuan dari tabblana pasui dan bu`neya ditambah dengan pasukan dari Maddumtuk sebagai pertemuan pasukan yang dipimpin oleh Lolo sengka sehingga ini disebut Tabbundukan yang banyak menelan korban dikedua belah pihak. Konon Raja Barasa sendiri korban mati tenggelam di sungai Salottallang dan dikuburkan disabila. Perlu dicatat disini, bahwa dinamakan Bone-bone karena pasukan Barasa kebanyakan bantuan dari Bone. Dikatakan Pabbundukan karena disinilah paling dahsyat pertempuran demikian pula Salottallang sebelumnya bernama Salsabila kerena airnya jernih tempat rekreasi seakan-akan air dari pegunungan surga yang disebut Salsabila. Barulah berubah menjadi Salottallang setelah arung Sabila tenggelam di sungai. Jadi nama-nama tersebut adalah nama simbol dari peristiwa yang terjadi.
Keadaan perang kekacauan ini dimanfaatkan oleh Belanda semakin membakar pertentangan dikedua belah pihak sambil mengamati kelemahan dan kekuatan masing-masing pihak yang bertikai guna menentukan sikap, kemudian Belanda mencoba membuat strategi untuk dapat menguasai Kerajaan Siang tanpa ada pengorbanan dipihaknya, yakni merancang perdamaian guna membentuk pemerintahan Boneka dengan menawarkan jasa baiknya pada kedua belah pihak yang bertikai supaya kembali kepada perundingan untuk damai.
Seperti diketahui selalu berpihak kepada yang lemah supaya cepat dukungan dan tawarannya dapat diterima dengan baik. Sebagai imbalan supaya Belanda diberi kesempatan untuk turut terlibat mengambil keputusan guna menanamkan pengaruhnya untuk mencapai tujuannya tanpa pengorbanan jiwa dipihaknya.
Demikianlah peperangan Barasa dan Siang Belanda turut campur merekayasa perdamaian dengan memanfaatkan Karaeng Joro sebagai juru runding diplomasi untuk mencapai perdamaian dikedua belah pihak yang bertikai.

Perjanjian Lallang Sipueya
Karaeng Joro adalah bekas panglima Kerajaan Gowa yang sudah berpihak kepada Bone berarti berpihak pula kepada Belanda atas rayuan VOC. Dibawah pengaruh Itanritatta. Arung Palaka sahabat lama Loe Pappasa sebelum Gowa takluk jatuh kepada VOC.
Dikatakan Karaeng Joro karena suka bertindak sendiri diluar jalur komando dan diberi sanksi akhirnya lari ke Bone dan diterima oleh Itanritatta Arung Palakka dan dapat gelar gelar Karaeng Joro dan dipercayakan untuk mencari perdamaian antara Kerajaan Barasa dan Kerajaan Siang sebagai diplomasi yang ulung dan digelar Tau (Juara) setelah berhasil dalam misinya dan diterima kedua belah pihak yang bertikai. Karaeng Jaro seakan tidak akan berpihak dari salah satu pihak yang bertikai sehingga disebut Lallang sipueya =( ) karena dia bernaung di Siang sebab pernah menjadi Panglima di Gowa dan bersahabat dengan Loe Pappasa kemudian bernaung di Barasa karena ikut sama Arung Palakka I Tanri Tatta Raja Bone. Gelar ini diberikan kepada Karaeng Joro setelah berhasil dan misinya kemudian diberi nama Perjanjian “Lallang Sipueya”.
Sebelum mempertemukan kedua belah pihak yang bertikai Karaeng Joro lebih dulu berunding dengan Loe Pappasa Pemangku Kerajaan Siang yang menghasilkan deklarasi bersama dan sebagainya :
1)

2)

Maksudnya : Apabila Karaeng Joro berhasil dalam misinya dan mendapat sambutan baik yang menguntungkan harus dinikmati bersama, sebaliknya apabila misinya gagal dan menemui jalan bantu apalagi membahayakan, keduanya akan menanggung resikonya =(manis sama diminum pahit sama di telan). Deklarasi ini disepakati oleh Loe Pappasa sebagai Pemangku jabatan Kerajaan Siang dengan Karaeng Joro sebagai utusan yang akan menghadap ke Raja Bone untuk membawa misi perdamaian yang bertujuan mengurangi dan menghentikan ketegangan pertikaian antara Siang dan Barasa.
Setelah Karaeng Joro menghadap kepada Raja Bone, lahirlah tawaran perjanjian sebagai berikut :
1. Kerajaan Siang tetap diakui keberadaannya dan berkedudukan di Bonto Rannu dengan nama siang Loe =(Siang Besar) yang Rajanya diangkat dari Raja Barasa.
2. Kedudukan OPPOKA tetap sebagai bagian dari Kerajaan Siang Loe =(Siang Besar) dan diberikan Pemerintahan Otonomi khusus dan diperluas wilayahnya meliputi bekas Kerajaan Barasa setelah Barasa diangkat menjadi Kerajaan Siang Loe. Dan kedudukan Anrong Appaka tetap milik ditangan OPPOKA.
3. Peperangan dan permusuhan Barasa dengan Siang harus dihentikan karena Barasa dengan Siang sudah masuk dan bergabung dalam Kerajaan Siang Loe =(Siang Besar).
Perjanjian ini disebut perjanjian “Lallang Sipueya” ( ) karena Karaeng Joro separuh jiwanya berada di Siang / Gowa karena beliau pernah menjadi Panglima di gowa dan sahabat karib Loe Pappasa, dan separuh lagi jiwanya berada di barasa / Bone karena beliau diterima oleh I Tanritata Arung Palakka sebagai teman dan pengawal.
Demikianlah maksud perjanjian Lallang Sipueya yang biasa dituturkan oleh seorang yang dianggap tua-tua adat dan budayawan pada masanya H. Pua Dg. Parukku.
Perjanjian ini disetujui dan diterima kedua belah pihak antara Kerajaan siang dan Kerajaan Barasa sebagai kunci perdamaian.
Rupanya perjanjian ini dirancang dan direkayasa oleh Belanda guna mengurangi ketegangan sekaligus memperkecil pengaruh dan wilayah kekuasaan OPPOKA dikemudian hari.
Perjanjian ini ditinjau dari segi politik dan strategi sangat menguntungkan Kerajaan Barasa, antara lain :
1. Arajange ri Barasa dipindahkan ke Istana Siang Loe, Berarti Kerajaan siang Loe mutlak Rajanya dari Barasa dan Ratu-ratuselanjutnya berasal dari keturunan Raja Barasa atau Bone karena mengikuti Arajangnge sebagai pemilik Kerajaan. Bukan lagi keturunan dari Gowa atau Tallo karena “Kalompoanga” ri Siang/Paccelang dipindahkan Ke Jagong Pangkajene. Barasa yang dipakai Raja-raja sebagian besar Bahasa Bugis.
2. Agar hubungan Karaeng Labbakan dan Segeri yang sangat akrab dan bersahabat dengan OPPOKA terbatas dan terpotong karena wilayah ini masuk kekuasaan Siang Loe sekalipun Labbakan tidak mengakuinya dan tetap mengakui OPPOKA karena sama-sama bernaung di Kerajaan Gowa. Sekalipun wilayah OPPOKA diperluas kebekas Kerajaan Barasa dan Bontorannu dijadikan Ibu Kota Kerajaan Siang Loe (Siang Besar).
3. Keuntungan lain, Belanda tidak lagi repot-repot memantau dan mengawasi OPPOKA sebab sudah bernaung dibawah pengewasan Kerajaan Siang Loe yang Rajanya berasal dari Barasa atau Bone dan pada gilirannya nanti Belanda dapat menguasai OPPOKA ri Paccelang tanpa pengembanan jiwa dipihaknya.
4. Karaeng Joro yang digelar Lallang Sipueya juga menagih janji kepada OPPOKA sesuai deklarasi kedua / bersama mereka dan diberi wilayah kekuasaan di Bontoa dengan jabatan Lo`mo, kemudian digelar Lo`mo Kajuara artinya = (Tujuara) atau Lo`mo Joro dan dilantik pada pelantikan pada batu pelantikan Gowa-gowa di Bontoa Kajuara.
Jadi pemerintahan Siang Loe sudah jatuh ketangan keturunan Arajangnge di Barasa atau Bone. diantara Rajanya yang terkenal ialah Arung Sabila mati tenggelam di Sungai Sabila dan dikuburkan di Sabila kemudian digelar Arung Sabila berasal dari Bone.
Untuk menghormati beliau setiap orang yang melanggar dikuburannya yang berkendaraan kuda diharuskan turun dari kudanya. Demikian pula pesiarah dikuburnya diharuskan membawa bendera putih dan poke banrangen dan tidak boleh membawa payung atau dipayungi dan naik kuda.
Dengan demikian Kerajaan Siang sudah terpecah dalam tiga periode dan diwarisi oleh Barasa selanjutnya nama Kerajaan Siang dikuburkan oleh VOC.
Periode Siang kuno abad ke XIII
Periode OPPOKA ri Paccelang abad ke XVI
Periode Siang Loe abad ke XVIII.
Demikian dikisahkan oleh orang-orang tua dulu sewaktu penulis masih kecil. Hal yang sama penulis pernah juga dituturkan oleh Karaeng Pangkajene Andi Luri Tuan Rulu sewaktu penulis jadi Kepala Desa tahun 1968 dan sama-sama bertugas di Bendungan Mappatua Tabo-tabo beliau mengatakan bahwa Kalompoanga ri Pangkajene adalah milik OPPOKA ri Paccelang.
Setiap pergantian Raja-raja dulu “Kalompoanga” yang dimaksud “Bon Cindea” sebagai tahta kerajaan, dijunjung diatas kepala disertai sumpah setia kepada rakyat didepan Katoanga dan Dewan Pemangku Adat Anrong Appaka ri Siang dalam pelantikan Raja-raja yang baru di angkat.
“Kalompoanga” dan Arajangnge dianggap pemilik Kerajaan bukan orang perorang. Barang siapa ditakdirkan menjadi Raja harus menjaga dan menghormati kalompoanga dan ajaran sebagai pemilik Kerajaan.
Arung Palakka digelar juga Petta Malampegommona Sultan hasanuddin, Matinroe ri Bontoala, Makassar.


Pemerintahan Loe Pappasa OPPOKA ri Paccelang Dibawah Naungan Kerajaan Loe
Setelah perdamaian dan perjanjian “Lallang Sipueya” terwujud dan disetujui kedua belah pihak maka yang menjadi Pemangku Jabatan tertinggi ialah Raja Barasa dengan jabatan Arung Barasa dan berkedudukan di Siang Loe ibu kotanya Bonto Rannu. Adapun Loe Pappasa selaku OPU tetapi berkedudukan di Paccelang ibu kotanya “Kasuarrang” yang lebih tersohor dengan jabatan OPPOKA ri Paccelang dan diberi pemerintahan otonomi khusus untuk mengatur dan mengurus wilayah kekuasaannya yang telah disepakati dan ditentukan serta ditetapkan bersama oleh induk kerajaan Siang Loe.
Struktur Organisasi Pemerintahan OPPOKA yang dipimpin oleh Loe Pappasa tidak ada perobahan yang mendasar. Loe Pappasa tetap didampingi oleh penasihat yang disebut “Katowanga” dan Dewan Pemangku Adat Anrong Appaka sekaligus pemerintahan harian yang mempunyai wilayah masing-masing dan perangkap pemerintahan terendah seperti Anrong Tau, Anrong Parasangan, Kare dan Dae.
Selain daripada itu Karaeng Joro juga menan\gih janji sesuai Deklarasi “Lallang Sipueya” dan diberi wilayah kekuasaan di Bontoa Kajuara dengan jabatan Lo`mo dibawah koorddinator Tunirannuang di Lesang.
Adapun bagian bekas wilayah Kerajaan Barasa Loe serahkan kepada si Batua sebagai koordinator dan masing-masing membentuk Anrong Parrasangan = (Punggawa / sebagai kepanjangan tangan pemerintahan Loe Pappasa selaku OPU atau OPPO =(Raja yang bertahta).
Pemerintahan beliau bukan pemerintahan kekuasaan mutlak, karena beliau selalu mengutamakan musyawarah untuk mufakat ( ) atau untuk mengambil keputusan sehingga rakyat dan masyarakat tidak merasakan adanya perubahan yang mendasar dari OPPOKA dengan Siang Loe sebagai induk Kerajaan yang lebih berkuasa dan dipertuan, tetapi OPPOKA sudah merasakan adanya perbedaan, bahkan mulai ada tekanan-tekanan dari induk Kerajaan Siang Loe atas rekayasa Belanda karena sudah mencampuri sistem pemerintahan, tetapi masih sebatas toleransi untuk menjaga jarak antara induk Kerajaan dan OPPOKA dalam pemerintahan khusus.
Kehidupan masyarakat berjalan seperti biasa dan masih bertumpuh kepada pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan kerajinan rumah tangga dan tetap menjaga kelestarian budaya sebagai peninggalan leluhur.
Keamanan semakin diperketat untuk menjaga stabilitas keamanan dan stabilitas daerah kekuasaan OPPOKA. Karena itu dibentuk pos keamanan di Lempangan sama hal di Sengkae tempat singgah untuk melapor. yang diberi tugas sebagai Komandan bernama Tuwi Dg. Manassa dengan gelar Korona Lempangan, pemberani dan disiplin menjalankan tugas.
Seluruh tamu yang akan menemui OPPOKA harus melapor pada pos depan sebab itu dia buat Lempangan tempat singgah melapor sama dengan Sengkae kemudian tamu-tamu itu dikawal untuk menghadap ke Istana Balla Lompoa, kadang diiringi pengawal dengan penari kalau tamu itu penting. Tamu-tamu tidak diperkenankan memakai kuda atau jowa (pasukan) kecuali pengawal pribadi dan tidak diperkenankan memakai payung atau dipayungi.
Peraturan ini diperlakukan percerminan bahwa pemerintah Loe Pappasa pemerintahan mutlak seperti Raja-raja lainnya, tetapi menganut sistem kerakyatan yang ditentukan bersama Dewan Adat Anrong Appaka yang mengutamakan persamaan hak, kewajiban dan tanggung jawab untuk mencapai keadilan sosial bagi rakyatnya. Banyak tamu-tamu yang mengunjungi beliau baik dari kerajaan Makassar, Gowa, Tallo maupun dari Kerajaan Bugis Bone, Kuwu dan lain-lain sebagainya dan beliau mendapat pujian karena kejujurannya dan keadilannya mengambil satu keputusan dan kebijakan dan beliau menyandang beberapa gelar seperti Paccinongan karena dapat memisahkan persoalan yang keruh menjadi jernih, Paccinaungan Bugis = menaungi yang lemah dan benar, Bangkasa artinya putih bersih seperti ayam jantan yang tidak mempunyai warna lain kecuali putih bersih . Lihat halaman 48 (Bangkasana Paccelang).
Sekalipun demikian didunia ini tidak ada yang kekal setiap orang yang hidup sewaktu waktu dipanggil oleh penciptanya Allah SWT demikian yang terjadi pada Loe Pappasa alias Loppasan OPPOKA ri Paccelang dan dikuburkan di pekuburan Paccelang.
Sepeninggal beliau Raja-raja yang berkuasa berikutnya semuanya berasal dari keturunan Arajange ri Barasa dibawah kekuasaan Kerajaan Siang Loe bukan lagi keturunan dari Kalompoanga yang berasal dari Gowa dan Tallo. Bahkan Kalompoanga ri Paccelang dipindahkan ke Jagong Pangkajene seakan-akan diasingkan jauh dari rakyat Paccelang oleh penjajah.
Tetapi Belanda juga tahu bahwa apabila budaya ini dihilangkan atau diganggu akan timbul suatu masalah besar. Karena itu selama Kalompoanga berada di Jagong Pangkajene tetap dijaga dan dipelihara dan dirawat oleh orang-orang dari Paccelang yang dipimpin oleh seorang Pinati dan anggotanya yang disebut Pajujung yang sangan menjunjung tinggi adat dan kebudayaan sebagai pengawal Kerajaan, bebas dari pajak dan Kasuwiyang.
Dan pada gilirannya siang Loe juga dipecah dan diperkecil wilayahnya setelah Belanda mutlak menjajah Sulawesi Selatan dan berkuasa di Siang. Nama Siang tidak dimasukkan dalam jajaran kewedanaan tetapi diganti dengan kewedanaan Pangkajene, Karaeng Balocci, Karaeng Bungoro, Karaeng Labbakkang, Karaeng Marrang dan Karaeng Segeri Mandalle.
Maka tamatlah riwayat Kerajaan Siang beserta kebesarannya yang muncul sekarang Kabupaten Pangkep yang lahir dari Ibu kandungnya Kerajaan Siang yang pernah tersohor dan dikenal oleh Mancanegara sebelum Gowa Tallo dan bergabung dengan Kerajaan Makassar.
Untunglah karena masih ada generasi muda yang mau bekerja keras untuk mengadakan pengamatan dan penelitian baik melalui kisah tutur tes dan tapak Arkeologi sehingga dapat menghasilkan satu karya tulis yang berjudul Kerajaan Siang Kuno yang sangat besar artinya bagi rakyat Pangkep. Semoga anak-anak mau bekerja keras mencari data dan sumber sejarah melalui tutur maupun bukti sejarah yang masih tersisa untuk membuka tabir kebesaran Kerajaan Siang yang terpandang selama ratusan tahun.
Dan kepada orang-orang tua pemuka adat yang memiliki Lontara atau melihat dan mendengar tentang kisah sejarah Kerajaan Siang sudah tiba masanya berpartisipasi mengungkapkan menuturkan atau membikin karya tulis tentang Kerajaan Siang supaya anak-anak dan generasi penerus dapat menelitih secara ilmiah tentang Kerajaan Siang.
Dan kepada adik-adik, anak-anakku, dan generasi penerus yang mengadakan penelitian supaya terus dikembangkan penelitiannya meliputi bekas Dewan Anrong Appaka di Siang antara lain Sangkae = (Lolo Sengka) Paccekang = (Paccalaya) Baru-baru = (Tubaraniya) Lesang = (Tunirannuang) semuanya ini banyak menyimpan peninggalan sejarah Kerajaan Siang.
Jika kabupaten Gowa lahir dari induknya Kerajaan Gowa Kab. Bone lahir dari Kerajaan Bone Kab. wajo, Soppeng, Luwuk, Mandar dan Lain-lain kabupaten lahir dari induk Kerajaannya. Kenapa Pangkep tidak lahir dari Kerajaan Siang...???
Penyebabnya karena kebesaran Siang dipendam oleh penjajah dan jarang yang tahu sejarah dan lontarana Siang. Menurut orang-orang tua dulu banyak Lontara yang diambil Pemerintahan Belanda entah di bawah kemana, sehingga Siang kehilangan arah dan jejak.



Budaya Yang Berkembang
Jika ada orang yang berpendapat bahwa Kab. Pangkep bukan Kabupaten yang berbudaya dan beradat jangan kita tersinggung karena Pangkep baru lahir setelah ita merdeka.
Beda dengan Kabupaten lainnya seperti Gowa, Bone, Wajo, Soppeng, Luwuk, dan kabupaten mereka lahir dari rahim ibunya Kerajaan Gowa, Bone, Wajo, Soppeng, Luwukdan lain-lain semuanya lahir dari induk Kerajaan masing-masing.
Pangkep lahir bukan dari Kerajaan Siang karena itu ada orang yang berpendapat bahwa Pangkep tidak beradat dan tidak berbudaya, tetapi rakyat Pangkep ke budayaan yang tinggi beranekan ragam dan adat istiadat seperti yang dimiliki Kab. Lainnya tetapi ada budaya dan kesenian yang tidak dimiliki daerah lainnya seperti Pakarena Tubura`ne yang hanya dapat dimainkan oleh laki-laki dan tidak boleh perempuan. Istilah keistimewaan budaya yang berkembang di Pangkep.
Unutk itulah melalui tulisan ini mari kita sama-sama menjaga Budaya kesenian, Tarian pakarena dan tarian bissu disamping tarian pakarena untuk menghidupkan dan melestarikan peninggalan leluhur dari kerajaan Siang supaya kembali bangkit dalam permukaan setelah terpendam beberapa abad lamanya.
Untuk mengembalikan nama besar kerajaan Siang, menjadi kewajiban seluruh rakyat Pangkep menggali kembali budaya-budaya yang berkembang yang masih ada seperti.
Bissu (Pabissu)
Menurut orang tua dulu Bissu atau Pabissu itu berasal dari Kerajaan Tompo bulu yang dikembangkan oleh I Lagaligo isterinya bernama Tutti Dg. Malina salah sati kerajaan Makassar yang lahir pada abad X. bissu ini konon berasal dari tanah Cina yang dibawa oleh Sawerigading yang digelar datu lettu Datunna Cian karena kawin dengan outri kaisar Cina yang bernama We Cudai dg. Risompa dan memiliki putri bernama I Lagaligo dan kawin dengan We Tanrigangka Datu Tempe. ILagaligolah yang mengembangkan tarian Biksu di Kerajaan cina( Bugis) lainnya.
Bssu ini diperkirakan berasal dari agama Buddha kemudian diterima oleh masyarakat menjadi peninggalan leluhur yang perlu di lestarikan.
Kerajaan Barasa adalah kerajaan yang bernaung di bawah Kerajaan Bone yang erat hubungannya dengan kerajaan Tanete (Barru) bekas Kerajaan Tompobulu, sedlanjutnya biksu ini diterima dan dikembangkan Kerajaan Barasa melalui Kerajaan Tanete dan menjalar ke Negeri.
Kerajaan Barasa menggabung dengan Kerajaan Siang, kemudian diberi nama Siang Loe maka Bissu ini diterima pula oleh masyarakat Siang Loe menjadi hasana kebudayaan yang sampai saat ini masih berkembang di Bungoro sebagai Tarian Kerajaan yang perlu dilestarikan di Pangkep menjadi aset daerah.
Pakarena:
Menurut orang-orang tua dulu yang pernah menjadi penari pakarena mengatakan, bahwa pakarena itu lahir sebelum Islam masuk di Kerajaan Siang.
Menurut tutur tarian pakarena ini berasal dari Daerah Barat mungkin dari jawa atau bali dan mungkin pula dari India karena kata-kata Pinati ini hanya terdapat pada agama hindu. Sama halnya Bissu kata-kata ini hanya terdapat pada Agama Buddha, kemudian diterimaoleh masyarakat Islam sebagai Budaya, bukan sebagai agama dan kepercayaan.
Yang pertama menerima tarian pakarena ini adalah Kerajaan Tallo untuk mengihibur Raja dan Rakyat pada abad ke XV. Setelah islam masuk tarian ini dipadukan dengan tarian yang berkembang pada masa itu yang hanya di bolehkan penari laki-laki dan tidak dibolehkan perempuan menendakan kuatanya pengaruh agama Islam pada masa itu di Kerajaan Tallo dan Gowa.
Pakarena ini baru masuk ke Kerajaan Siang setelah Islamusasi dan menjadi Raja adalah Raja yag berasal dari Tallo dan membawa kebudayaan Pakarena yang perlu dilestarikan keberadaannya juga sebagai aset Daerah.
Paraga Patoeng dan Pencat Silat, dan lain-lain sebagainya.
Paraga atau permainan raga yang terbuat dari rotan yang dimainkan oleh beberapa orang dengan posisi membuat lingkaran dan para pemain memperlihatkan aktraksi-aktraksi semi yang dimilikinya guna menarik perhatian penonton. Pemain raga ini biasanya tidak lepas dari perpaduan semi pencat silat atau bela diri. Paraga ini pada jaman dahulu juga dipertandingkan dan sangat diminati oeh anak-anak Bangsawan dan menjadi permainan Raja-raja. Bahkan peraga ini mempunyai legenda tersendiri bagi perebutab gadis pujaan di Gowa dan Labbakan.
Budaya paraga atau permainan Raga ini adalah budaya Sulawesi Selatan yang jarang di jumpai di Daerah lain kecuali di Gorontalo tetapi bila raganya kecil dan cara mengolah seni sepakraga juga berbeda.
Khusus paraga yang pernah berkembang di Kerajaan Labbakan menurut legenda Mara bintang kamse diperebutkan dari dua pemuda yang tanggung dari dua saudara sepupunya yang bernama I Maddi dg. Rimakka dan I Manninggau yang berbentuk terjadinya peperang Bagaimana seterusnya, kisah ini pernah didengar oleh penulis sewaktu kecil melalui “Sindili” Imanakku putra somba karaeng Labbakan yang tidak pernah kedengaran lagi.
Jadi Paraga atau permainan Raga itu pernah berkembang pesat di Labbkan beriringan dengan pencat silat sebagai olahraga pembelaan diri. Kini Paraga atau permainan irtu sudah jarang kita jumpai bahkan sudah menjadi permainan langka. Apalagi setelah digusur oleh permainan takro yang memakai juga bola raga. Untuk melestarikan paraga dipangkep khususnya di labbkan yang menjadi budaya has perlu ada pelatih dan perkumpulan permainan Raja. Seperti di bontoa Jaya.
Selain paraga dan pencat silat juga ada permainan yang disukai para remaja putrid untuk melatih mental dan keberanian yaitu Patoeng yang mempunyai ketinggian sekitar satu batang bambu. Ayunan semacam ini pernah juga berkembang di Labbakan dan marrang kini budaya ini sudah jarang ditemui padahal dulu setiap keramaina pengantin selalu diramaikan dengan permainan Patoeng atau Ayunan dan buai yang raksasa ini.
Selain dari pada itu masih banyak peninggalan alat-alat seni berupa alat music seperti kecapi, serulin, suwi-suwi, basing-basing, katto-katto, dari nenek moyang kita yang kini sudah tergusur oleh alat-alat music modern kecuali gambus dan mandaling.
Tetapi apa salah kalau ada seniman yang berminat membangkitkan dan mengoleksi kesenian tradisional ini sehingga dapat dinikmati oleh generasi penerus sebelum punah sama sekali dengan membentuk grup-grup Paraga dan Patoeng atau kesenian lainnya. Ayo mari kita lestarikan Budaya dan Kesesuaian di Pangkep.


Pappalilikang = ( )
Arti Pappalilikang menurut bahasa berasal dari kata Palyly = ( ) dan mempunyai pengertian yang berbeda-beda barulah jelas artinya apabila dijadikan kalimat, seperti : Artinya orang-orang yang suka mengelilingi sawahnya, bandingkan kalimat ini artinya orang yang suka merantau keluar daerah, dan berbeda pula artinya kalau orang mengatakan atau yang masing-masing berarti singkirkan kerbaumu, hindari bahaya. Semuanya ini bukan yang dimaksud dalam arti /
Jadi yang dimaksud Appalili disini dalam pengertian sakral dan ritualnya, berusaha menghindarkan mala petaka dan mengusir segala kemungkinan yang dapat mendatangkan mara bahaya dalam pertanian, baik berupa hama seperti hama tikus, babi, hama wereng dan lain-lain sebagainya. Maupun bencana alam seperti banjir dan kekeringan melalui doa dan mantra-mantra kepada sang Pencipta Allah SWT.
Selain dari itu Pappalilikang merupakan juga simbol persatuan petani sebagai mani pestasi kebersamaan, dan dilarang keras memulai pembajakan dan pencangkulan sebelum diadakan “Pappalilikang”.
Tujuannya supaya sama-sama membajak, sama-sama mencangkul, sama-sama menabur benih, sama-sama menanam padi, dan padi sama-sama tumbuh dan bersamaan berbuah guna menghindari serangan hama dan mempermudah bekerja secara gotong royong untuk menambah semangat dan gairah kerja.
Pappalilikang juga terkait yang sifatnya mistik, misalnya meramalkan cuaca hujan yang cukup untuk pertanian guna mendapatkan hasil yang baik.
Adapun tanda-tandanya ialah apabila hewan kerbau yang dipakai membajak itu kencing maka diyakini oleh petani bahwa curah hujan cukup banyak, selanjutnya apabila kerbau itu membuang kotorang berak maka diyakini pertanian akan berhasil dan apabila kedua-duanya kencing dan berak maka diyakini itu lebih baik lagi hujan akan melimpah dan mengantisipasi adanya banjir.
Sebaliknya apanila kerbau yang dipakai membajak itu tidak mengeluarkan kotoran dan tidak kencing maka oleh petani diragukan keberhasilan pertanian dan berjaga-jaga atas kekeringan dan serangan hama atau bencana alam yang menimpa pertanian.
Tanda-tanda lain yang diperhatikan petani dalam acara Pappalilikang ialah warna pakaian yang terbanyak dari orang yang menhadiri Pappalilikang seperti didominasi warna merah, maka bibit yang ditanam kebanyakan yang berbulu merah atau berbiji merah. Apabila peserta lebih banyak berpakaian warna putih maka yang ditanam kebanyakan yang berbulu putih seperti ase banda putih dan apabila didominasi pakaian warna hitam maka bibit yang ditanam warna bulunya hitam. Demikianlah sedikit kepercayaan mistik orang tua dulu sebelum agama Islam bahkan sesudah Islam masuk sebagai syarat-syarat sennussenungan paminasa deceng masih dipakai.
Setelah acara Pappalilikang selesai seluruh petani sudah bebas membajak, mancangkul dan mengerjakan sawahnya.
Persiapan Pappalilikang
Jauh sebelum Pappalilikang dimulai oleh Pinati sudah mengadakan persiapan latihan Pakarena Taraian khusus, diiringi dengan gendang gong baccing serta alat-alat musik tradisional lainnya yang dipimpin oleh pengantar acara = ( )
Pinati adalah tua-tua adat yang diberi kuasa oleh Raja untuk memimpin acara Pappalilikang yang diberi gelar Raja seghari, artinya seluruh ucapan, perintah dan permintaan pada hari Pappalilikang harus dipenuhi dan dipatuhi baik rakyat maupun pembesar Kerajaan, semuanya taat kepada Pinati nmenurut hari itu.
Raja sendiri menganggap bahwa Pinati itu mempunyai kelebihan dan kesaktian khusus, seakan semua ucapannya sakral berasal dari makhluk halus yang suci. Kesaktian Pinati itu sering terbukti dan disaksikan banyak orang, misalnya memegang bara api tanpa rasa panas dan terbakar, atau kehujanan tetapi tidak basah kebal sentuhan senjata tajam (tidak terluka). Bagaimana Pinati sekarang tentu tidak lagi bukan ??
Persiapan oleh Pinati lainnya mengumpulkan anggota pajujung yang sangat menjunjung adat dan budaya yang akan membawa komponen alat-alat dalam barisan ada yang membawa bendera Kerajaan, ada yang membawa pedang, tombak, poke banrangeng, tombak cabang dua, dan tiga, poke pondok, serta lengu / perisai, keris, badik umbul-umbul, bendera dari segala macam warna-warni. Pinati sendiri akan memakai pakaian Kerajaan, dipayungi dengan payung kebesaran dengan memegang tongkat Kerajaan dan keris Pasantimpo sebagai perisai diri. Layaknya seorang Raja yang dikawal oleh prajuritnya. Semuanya ini dipersiapkan tiga hari sebelum Pappalilikang dimulai.
Setelah persiapan dianggap sudah rampung oleh Raja barulah mengundang Pemangku Adat Anrong Appaka serta Pinati untuk membicarakan hari dan oleh Dewan Anrong Appaka menyampaikan kepada Anrong Tau, Anrong Parrasangan dan rakyatnya bahwa Pappalilikang akan diadakan pada hari dan tanggal.
Seluruh rakyat disuruh berpartisipasi untuk mensukseskan acara ini.
Para nelayan pantai menyumbangkan seluruh hasil seronya selama tiga hari tiga malam untuk digunakan pada acara Pappalilikang. Demikian pula petani kebun dari pegunungan turut memberikan sumbangan berupa sayur-sayuran, buah-buahan, gula merah dan hasil hutan lainnya.
Sedang susun pasar utamanya Pasar Matojeng dan Pajak Penghasilan selama tiga hari seluruhnya diperuntukkan untuk membiayai acara tahunan ini, guna mengatur pertanian dan membina petani melalui hukum adat yang berlaku.

Tata Cara Pappalikang
Tata cara pappalikang diatur dan ditentukan oleh panitia. Bersama Anggota-anggotanya yang disebut Pajujun adat istiadat yang ditentukan oleh Pemangku Adat.
Selain Pajujung juga penari pakarena pamingki sudah siap di Istana Kerajaan Ballak Lompoa dan malam itu juga penari Pakarena mulai menari dan gendang di tabu bertalu-talu menghibur Raja dan rakyat dengan tarian penghormatan di depan pembesar kerajaan yang turut hadir pada malam itu sampai menjelang pagi dengan istilah = artinya memamerkan gaba untuk tanaman beni sampai menjelang subuh.
Malam itu dinasti duduk bersilah dengan tafakkur menghadapi “kalompoanga” sambil berdoa keelamatan dunia akhirat smpai fajar menyinsing di ufuk Timur tibalah pelaksanaan aca puncak dan gendang terus dipalu bertubi-tubi dengan pukulan khusus membangunkan para pegawai Pajujung engirim Pinati untuk mengatur alat-alat yang akan dibawah serta dalam acara Pappalikan, pukulan gendang ini disebut “ Ganrang Pakanjara” ( ).
Pinati dengan pakaian kebesarannya memakai sele pasantimpo perisai diri, tongkat Kerajaan di payungi dengan payung kebesaran dikawal oleh pengawal khusus, didepan dua prajurit berpakaian hitam celana baru cipassapu parombe bersenjatakan kalewang/ pedang diapit kiri dan kanan dengan pengawal bersenjata tombak, pokek banrangen, poke pondo, poke cabang dua dan poke cabang tiga dan pengawal lain dari belakang merupakan jowa atau pasukan yang bersenjata keeris dan badik semuanya memakai passapi patiling dan masing-masing membawa bendera beranekaragam warna/ umbul-umbul. Dan di depan adalah pemberani yang membawa bendera Kerajaan bersimbol macam terbang yang biasa di sebut Cendea atau Macam keboka ri Tallo bertuliskan kaligrafi ayat-ayat Al-Qur`an. Kayaknya Pinati seperti Raja yang bertahta di kawal oleh prajurit dan pasukannya sehingga disebut “Raja Sehari” sampai tiba di sawah kalompoanga dan sudah tersedia sepasang kerbau dan alat pembajak untuk dipakai membajak. Selesai Pinati membajak pertama berarti seluruh rakyat resmi sudah mengerjakan sawahnya dan masing-masing kembali di istana Balla Lompoa untuk melapor kepada Raja bahwa Pappalikan sudah selesai dan alat-alat perlengkapan dikembalikan kepada tempatnya semula. Sebagian busa dicuci( ).
Acara selanjutnya makan bersama sambil menyaksikan acara selingan kesenian pakarena dan macama tarian yang ditampilkan dari berbagai kampung seperti pencat silat, Paraga, Patoeng, Pakacapi, Papui-pui, Sindili, kelong Ngosong dan Angngaru. Pagelaran ini mendekati sama dengan Vestipal kesnian sekarang.
Acara terakhir ialah tatap muka dengan Raja untuk mendengar Wijangan dari8 beliau guna mengarahkan kaum tani dan mengamankan serta menaati hukum Adat yang berlaku setelah Pappalikan selesai.
Seluruh rakyat sudah bebas mengejakan sawahnya dan pada saat yang bersamaan berlaku pula beberapa hukum adat yang harus ditaati oleh seluruh Rakyat khususnya kau tanisebagai berikut:
1.

2.

3.

4.

Maksudnya:
Dilarang orang menjual/ menggadai tanah, sawah, empang, lading dan lain-lain berupa tanah sesudah diadakan Pappalikang karena mendatangkan penyakit menular.
Yang dimaksud penyakit menular disini ialah kata hiasan, akan mendatangkan bahaya perseisihan umpamanya.
Si A menggadai sawah atau tanahnya kepada si B sudah menanaminya. Selanjutnya si A ingin menebusnya lalu mau menjual jepada si C atau pindah si D tentu kepada si C atau pindah gadai kepada si D tentu si B merasa dirugikan maka terjadilah sengketa yang dapat melibat orang lain dan menjalar menjadi perselisihan yang dapat mengakibatkan pertumpahan darah. Inilah yang dimaksud Antamai Jammanga ( ).
Jadi Pappalikang itu sebagai batas tanah oran dapat berjualan tanah atau gadai tanah sesudah Pappalikang sudah dilarang untuk jual beli tanah.
Dilarang orang berjual tebu sesudah Pappalikang di khawatirkan padi akan hampa.
Kata hampa disini adalah kata hiasan, karena mustahil padi itu hampa jika orang berjual tebu. Yang benar adalah tebu itu dimakan yang paling di sukai anak-anak karena manis. Tebuh itu biasanya matang pada waktu panceklik sesudah persediaan makanan menipis, hanya cukup bertahan sampai panen raya. Beras terpaksa dijual untuk di beli tebu karena anak-anak merenge, akhirnya persediaan makanan tidak cukup lagi dan meminjam kepada tukan Ijon ( ) dengan bunga yang lipat ganda. Inilah yang dimaksud padi akan hampa. Hasil tetap ada tetapi habis untuk bayar kepada tukan Ijon ( ).
3. Dilarang untuk meneumbuk pada malm hari sesudah Pappalikan hama padi berdatangan. Benarkah itu? Tentu tidak, yang benar sesudah Pappalikan semua orang kekurangan persediaan makanan karena masuk masa paceklik. Karena itu jika ada orang yang menumbuk padi pda malam hari dia dianggap seperti orang sombong menari-nari dissat orang kekurangan persediaan makanan dan menimbulkan kecemburuan social. Sehingga orang jahat mendengar bunyi lesun seakan-akan di undang untuk dating merampok inilah yang dikatakan ( ).
4. Dilarang oleh bertenun kain sarung pada malam hari sesudaj Pappalikan karena ulat akan memakan padi. Benarkah itu? Tentu tidak benar, yang benar sesudah Pappalikan karena banyak pengangguran dan tidak ada lapangan kerja dan anak-anak muda kebanyakan begadang. Yang betenun kain pada malam hari kebanyakan di kerjakan oleh gadis remaja.
Untuk menghindari perbuatan jahat pada pemuda pengangguran yang sering menganggu gadis remaja pada malam hari maka bertenun dilarang pada malam hari supaya terhindar dari gangguan perkosaan yang sering terjadi inilah yang di sebut ( ).
Kesimpulan
Larangan yang berlaku pada hokum adat sesudah Pappalikan merupakan anti sipasi untuk mengurangi terjadinya hal-hal yang dapat mendatangkan mala petaka seperti sengketa tanah yang menjalar dan berbentuk dengan pertumpahan darah.
Mendidik kepada rakyat supaya hemat jangan membeli sesuatu yang kurang berguna dan bermanfaat sehingga terikat utang oleh tukng Ijon. Akibatnya punya hasil tetapi hanya untuk membayar utang yang berlipat ganda sama dengan Ijon.
Menghindari diri dari ketamakan dan kesombongan seakan-akan dia punya padi banyak dan menumbuk pada malam hari yang meransang perampok untuk berbuat jahat karena kecenburuan social. Bunyi lesung seakan-akan mengundang penjahat.
Mengantisipasi terjadinya perbuatan yang tidak senonoh dari tangan pemuda pengangguran pada malam hari terhadap gadis-gadis remaja yang bertenun kain setelah tidur dengan pulas dan di gunakan kesempatan untuk berbuat jahat untuk memperkosa korbannya.
Hokum adat ini berlaku sampai tiba waktunya panggelayan ulu ase-ase lolo, Pappalungan Pappa dendangan, Pappaddekoan ( Panen Raja).
Pappalikan ini dilaksanakan juga di Bungoro, Labbakan, Marrang, Sigeri Mandalle dengan acara khusus masing-masing.
Demikian keterangan orang-orang tua dulu dan penulis sendiri termasuk pelaku Pappalikan dan Pangngallean lulu Ase Pallau lengan Pappadendangan antara tahun 1966 sampai dengan 1970.

Pangngaleang Ulu Ase / Ase Lolo
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa sesudah acara, Pappalilikang (Pembajakan pertama) ada beberapa hukum adat yang berlaku harus dipatuhi oleh rakyat pada umumnya dan kaum tan khususnya, sampai tiba saatnya Pangngaleyang ulu ase / Ase lolo Pallaulungan.
Arti Panggaleang Ulu Ase
Pangngaleang ulu ase ialah pemetikan padi pertama secara resmi yang dilaksanakan oleh Raja melalui Pinati dengan upacara adat disawah Kalompoanga sebanyak 2 ikat diantaranya satu ikat yang memakai sanggul dianggap padi perempuan dan yang satu dianggap padi laki-laki, selanjutnya dipertukarkan dengan ulu ase tahun lalu sebagai pengganti sampai tiba pengngaleyan ulu ase tahun berikutnya.
Sesudah dipertukarkan dengan acara khusus maka batallah hukum adat yang diperlakukan sesudah acara Pappalilikang ditandai dengan acara Pappadendangan Pappaddikoan sebagai hiburan rakyat (syukuran).
Demikianlah secara singkat penulis uraikan tentang Pangngaleyang Ulu ase / Ase Lolo yang menjadi tradisi pada masa yang lalu.
Manfaat Pappalilikang
1. Merupakan Komando dimulainya turun di sawah untuk mengolah secara serentak, sama-sama membajak, sama-sama menabur, sama-sama menanam dan pada gilirannya sama-sama menuai.
2. Menghindari dan mengurangi serangan hama gangguan tikus, babi dan burung pipit, serta serangan hama lainnya. Karena padi serem tak menguning dan langsung dijaga oleh petani bersama-sama.
3. Memberikan dorongan dan semangat bagi kaum tani supaya lebih bergairah mengerjakan sawahnya, apabila dikerjakan bersama-sama secara gotong royong.
4. Mengajar agar disiplin mematuhi hukum adat yang diperlakukan sesudah Pappalilikang dengan penuh kesadaran.
5. Bermanfaat sebagai sarana hiburan dan keramaian bagi rakyat dan petani pada khususnya. Sarana menjalin kenikmatan antara Raja dan rakyat melalui tatamuka.
Manfaat Pangngaleang Ulu Ase / Ase Lolo
1. Mensyukuri nikmat pemberian Tuhan atau keberhasilan kerja keras yang dicapai oleh rakyat kaum tani dibidang pertanian.
2. Pertukaran ulu ase baru ini dengan ulu ase tua tahun lalu menandakan berakhirnya hukum adat yang berlaku sesudah acara Pappalilikang ditandai dengan Pappadendangan / Pappaddekoan (menumbuk padi muda / Laulung).
3. Ajang pameran hasil pertanian dan perkebunan karena tiap-tiap kampung diwajibkan membawa hasil pertanian / perkebunan sebagai hasil tahunan untuk disumbangkan kepada acara tersebuat buat konsumsi orang banyak.
4. Sebagai sarana tata muka dan dialog antara rakyat dengan Raja untuk memberikan pengarahan.
5. Merupakan Pestifal kesenian karena tiap-tiap kampung membawa atraksi kesenian baik pedendang, pencat silat, Paraga, Paloeng, gambusi, kecapi, Pajoge dan tari lainnya untuk hiburan rakyat.
Demikian sekedar gambaran manfaat Pappalilikang dan Pangngaleyang Ulu Ase / Ase Lolo yang dituturkan orang-orang tua dulu.

Hal-Hal Yang Berkaitan Dengan Acara
Pappalilikang Dan Pengngalean Ulu Ase
Pakarena atau penari Pamingke tidak dapat dipisahkan dengan acara Pappalilikang dan acara Pangalean Ulu Ase, sebab pakarena itu merupakan pengiring dari dua acara tersebut diatas.
Menurut legenda bahwa pakarena ini berasal atau pendatang Sari Wilayah Barat mungkin dari Jawa, Bali atau India yang jelas pengaruh agama Hindu terlihat dari simbol Pakarena ini ialah Burung Garuda yang dipakai sebagai perhiasan dan kata Pinati sebagai pimpinan. Acara ini hanya terdapat dalam agama Hindu.
Menurut legenda sewaktu sandar sebuah perahu dagang datang dari Barat tiba-tiba dia menabul gendang pakarena sebelum melapur dan tidak pernah terlintas ditelinga Raja pada waktu itu yang sangat mempengaruhi getaran jiwa Baginda Raja, sehingga Raja mengutus suatu utusan keperahu yang baru saja tiba dimuara sungai Tallo. Mempertanyakan identitas pedagang dari mana ? Apa maksud kedatangannya ? Apakah ia berdagang ? Atau seorang utusan ? Apakah ia kawan atau lawan ?
Setelah utusan Raja selesai mempertanyakan segalanya. Pendatang itu memberikan jawaban sebagai berikut ini:
Kami datang ini bukan musuh dan tidak mencari musuh tetapi apabila diserang kami membela diri dengan senjata seni yang kami miliki, kedatangan kami bukan utusan, kami datang dengan kemauan sendiri tanpa mencari musuh dan kami datang untuk mencari sahabat, kami datang bukan pedagang karena kami tidak membawa barang dagangan selain gendang, gong, tawa-tawa serta awak perahu sekaligus penari yang dapat menghibur hati bagi pendengarnya dan kami bersedia menghibur paduka Raja. Selanjutnya pesuruh kembali dan melaporkan segalanya kepada Raja. Dengan demikian Raja mengizinkan naik ke darat dan memperkenalkan tarian Pakarena ini kepada Raja dan rakyat yang sampai sekarang masih dapat dinikmati oleh penggemarnya. Tetapi apabila pemerintah tidak segera turun tangan dalam pembinaan maka Tarian Pakarena ini akan musnah dalam waktu singkat karena tinggal beberapa orang dan sudah berumur lanjut diatas 75 tahun. Orang Badorrahim dan Dg. Badorrahaman dan tidak ada biaya hidup.
Kalau dulu jaminan hidup anggota Pakarena ini diberikan garapan sawah Kalompoanga ri Nitu sekitar kurang lebih 7 hari sekarang sawah tersebut sudah ludes dijual oleh orang-orang yang berkuasa yang tidak bertanggung jawab atas kebudayaan.
Selanjutnya Tarian Pakarena ini diterima oleh Islam sebagai Budaya leluhur bukan agama dan kepercayaan.
Tarian Pakarena hanya dapat dimainkan oleh pria dan tidak dibenarkan oleh perempuan menandakan bahwa besarnya pengaruh Agama Islam pada waktu itu.
Tarian Pakarena ini dikembangkan di Kerajaan Siang setelah sesudah Titi Dg. Majannang Keturunan Raja Tallo menjadi Karaeng di Paccelang selanjutnya menjadi Pemangku Kerajaan siang, tutur para pakar Pakarena.
Tarian Pakarena ini dimainkan oleh pemain sebanyak 2 orang pemukul gendang, orang pemukul gong, satu orang pemukul baccing atau tawa-tawa dan satu orang pemandu nyanyian Pakarena yang disebut Pappaulu kelong sekaligus menjadi pimpinan Pakarena. Semuanya berpakaian adat.
Menurut Dg. Kai dan Dg. Badorrahim orang ini yang paling pakar di bidang tarian Pakarena bahwa Tarian Pakarena ini yang sering juga disebut “Pamingki” terdiri dari beberapa judul permainan (Karenang) dan masing-masing mempunyai syair untuk dinyanyikan. Inilah syairnya :
I. Tarian Canggolong-golong = Tarian Jejaka dengan simbol “Bunga Kebo`” = ( )

Bunga kebo` timbosako

Natakkimbolong

Macoppong riko kona

Lebanga ripamaina

Kaddeji Kubunga kebo




Rimoneong tompo



Teya timbo ri buttaya

Ribangkeng sellatan tompo
Nampai mappucu lebong

Nateya lalo

Nakutalli mata maman

Batara mappasalasa

Subangngipi nakucini

Kaca kamummu

Sulona karontigia

Tulisan tamallajua

Langnge langereka nakke

Tumassa naja

Tumattinja ri Tanmunna

Ri tompona pammalu`na

Apa nakana tinjana

Lintako lebba

Samajanna ri tannunna

Nanapakiko matene

Sarrami ronrong

Niyamo ana

Ricappa kayu mateya

Mangngurangi mateneya

Sirra tojemmi lampana

Teyaya balu

Tappumi bela belana

Suro pelaki kalenna

So`na kupasangko teya

Nabembeng cinna

Laja biasako sallang

Naerang simpung pa`mai

Sonaya baji nibuno

Anjoreng na balle

Iya teya nitallasi

Anrinni napassalasa
I Basse I Mangngindaran

Natalebbaka

Sere-sera tannunna

Napintujumo burane

Empoki tariballatta

Mappasilele

Tontong ki tatontonganta

Cinitta parallakkenta


Kucininu riallowa

Muri murinu

Kusonaanu ri bangngiya

Kakkala tamallajunu

II. Tarian Percintaan dengan Simbol Sapu Tangan = ( )

Kadde kuassengko niya

Nakusapui

Kudupaiji tukakku

Te`ne malang Cocorangku

Jari tingkasa ko bombang

Nanalallangngi

Mallimbubuko tamparang

Karaenna parrisikku


Napoleimi samaja

Saremi tene

Pakkanana riballana

Rigantengan tarianja

Bintoeng tujunna Tallo

Iyapa sarra

Bulan tujunna segeri

Natakkaleda cinikku

Takkaledako cini

Masarra` tommi

Kamalantammi bangngia

Bulan tujunna segeri

Punna nipakontu tojeng

Majai sallang

Kananna bori bellaya

Tontongan lawa-lawakkang

Bolimama nupakontu

Mangku nasare labba

Kteyama mannuruki

Kupareji te`ne

III. Tarian Penghormatan dengan Simbol Kipas = ( )

Somba karaeng

Iyangku bassung

Kupanasai ulungku

Iyangku mawek-weke

Sangin karaeng mammempo

Tabe karaeng

Sangin daeng Majjaen

Lamakkelongi atanta


Punna ada nedongkoki

Benteng tatumpung

Rapangi balla sibatu

Pattongko takatiroang

Adakaji palen tojeng

Talara bawang

Iyaji randang tatappu

Punna battu barubua

Meneyanne ruballatta

Tunakujinne

Tena jowa kuerang

Mene kupassaburan

Ipantarang kalli iji

Talomo-lomo

Nakusikkimo bidakku

Salaya ri pangngadakkang

Karaengku ji inakke

Iyapa sunggu

Kukellai tasalasa

Naniya todong teneta

Parrisis palembamama


Mangku masserre


Linrung bulo eokkomama

Rapangku palengumama

Turibori naparikong

Mangngamaseyan

Patamnapa Parrasangan

Naniya todong teneta

IV. Tarian Perang dengan Simbol Pedang / Tombak = ( )

Bongkaraki balangowa

Nanisombali

Panai samparajaya

Tumakkana buraneya

Sekekiya bongkaranna


Karanrang gallang

Kontenga ri labuanna

Nabalango Basse kalling

Bela mucinimi sallang

Nataba sarro

Pasombala malolowa

Ridolangan tamammelo

Kerassenji nabara lolo

Kuallyanna

Kunjungji lakuasombalang

Tallanga natowaliya

Apa nakana bombanna

Kebatttu mange

Bongkasana tarunganna

Manna arusu taniya

Punna battu barubua

Kitana taba kaeke

Kere angin kisombalong

Ritangnga dolangang

Punna teya nabongkasi

Kalau tongko

Bombangan pangngallewuna

Mallabu rimalinoa


Punna batta malinoa

Kitana taba parra

Tena angin kisombalan

Ritangnga dolangang

Keremi jangan rewaya

Nakaruntungan

Bija jangan sandaowa

Ballaka ri Kampong Beru

Bakkemi buri panowa

Tenambakkeya

Talluntaunga nisangko

Baraya panne sallang

Bakke tojemmako anne

Baja tauwa

Kainakkemo nurumpa

Burane tanigandaya

I kau bone bandera

Ipo turaja

Teyako majojo dudu

Taena tamnarianna


Inilah nyanyian dan syair yang biasa dinyanyikan oleh penari “Pakarena” di Paccelang yang dapat dicatat oleh penulis dari Dg. Kai dan saudara ipar Dg. Badorrahim semoga ada manfaatnya dan dapat diolah oleh generasi selanjutnya.
Adat Istiadat yang Berkembang :
Tidak semua adat kebiasaan orang-orang tua kita harus diikuti tetapi bukan pula seluruh kebiasaan orang-orang tua kita harus ditolak apalagi dibuang, karena masih banyak yang relevan dengan keadaan dan kebiasaan kita sehingga hal tersebut perlu dipertahankan dan dilestarikan keberadaannya sebagai peninggalan leluhur dan diperdayakan dalam pembangunan bangsa di bidang sosial dan budaya. Tinggal kita memilih dan menyaring simbol-simbol dan semboyan serta ungkapan menurut tujuannya. Berikut ini penulis menyajikan beberapa simbol, ungkapan dan semboyan :
1. Assamanturu = ( )
2. Abbulo sibatang = ( )
3. Attina = ( )
4. Assele badi = ( )
5. Seri Sipassiriki = ( )
6. Appasiki = ( )
contoh ini diangkat dari sekian banyak yang dapat membangkitkan semangat gairah kerja yang dapat digunakan alat untuk menyelesaikan masalah yang sulit dikerjakan oleh seorang diri.
Assamaturu = ( )
Kalimat ini disebut juga atau tudang dipulung, biasanya digunakan untuk menyelesaikan persoalan dan pekerjaan dalam mengambil keputusan dengan istilah / Misalnya menetapkan waktu acara perkawinan atau pekerjaan yang dianggap berat supaya menjadi ringan karena dipikirkan dan dikerjakan bersama-sama dengan istilah .
Kalimat atau simbol dapat pula dipakai dalam organisasi dalam mengambil keputusan sesudah musyawarah = ( ) dan masih banyak lagi manfaat dan kegunaannya apabila simbol ini diejawantarakan dalam kehidupan sehari-hari.
Abbulo Sibatang = ( )
Istilah ini biasanya dipakai orang-orang tua dulu dalam mengerjakan pekerjaan berat dan sulit dikerjakan dan diselesaikan seorang diri yang sasarannya untuk kepentingan umum. Misalnya membangun Masjid, Madrasah, Balai Pengobatan jabatan darurat dan lain-lain sebagainya, harus dikerjakan bersama-sama secara gotong royong dengan semangat dan simbol /.
Simbol ini biasanya juga dijadikan pegangan untuk menjaga keamanan lingkungan, melindungi kampung dari gangguan penjahat yang ingin mengacau supaya kita menjadi kuat dan mampu menjaga segala kemungkinan yang terjadi dengan semangat simbol (Abbulo Sibatang) = Bersatu kita teguh bercerai kita jatuh.
Attena = ( )
Istilah ini merupakan perwujudan semangat gotong royong, salin tolong menolong, bantu membantu dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan yang mendadak yang apabila tidak segera dibantu akan mendatangkan kerugian atau bencana, untuk mengatasi ini segera mengundang tetangga dan sahabat turut membantu mengerjakan / menyelesaikan sesuatu dengan simbol Attena menanam padai, Attena artinya mengikhlaskan tenaga untuk membantu teman atau orang lain yang sangat membutuhkan tenaga untuk menyelamatkan suatu pekerjaan yang tidak dapat dikerjakan sendiri. Jadi simbol Attena ini simbol bantuan tenaga kerja, bukan bantuan matrial seperti bantuan kemanusiaan lainnya.
Assele Badi = ( )
Membawa keris dan badik yang disisipkan dipinggang merupakan kebiasaan orang-orang tua dulu yang sampai saat ini sudah membudaya dan masih banyak terlihat di Sulawesi termasuk di Pangkep bekas Kerajaan Siang.
Badik dan keris dianggap sebagai saudara yang paling setia karena dapat menjadi pembela sewaktu-waktu bila ada ancaman berbahaya.
Selain dari itu badik dan keris dianggap sebagai pengganti tulang rusuk yang kurang sewaktu tulang rusuk nenek Adam dicabut oleh Tuhan di Surga dan dijadikan seorang perempuan bernama Hawa isteri Nabi Adam sendiri sebagai teman hidupnya dalam surga.
Menurut kepercayaan leluhur kita bahwa tidak sempurna seorang lelaki apabila tidak menyelipkan keris atau badik dipinggangnya sebagai perisai pengganti tulang rusuk yang sudah dicabut dari Nenek Adam as.
Seseorang yang membawa keris atau badik ( ) bukan bertujuan dan bermaksud untuk tujuan kepada yang jahat, tapi sewaktu-waktu dapat dijadikan pembelaan diri dan pelindung dan dijadikan arimat sebagai laki-laki sejati.
Kepada seseorang yang akan meninggalkan kampung dengan maksud merantau biasanya orang-orang tua mengingatkan supaya jangan berpisah dengan “Saudaranya” yang dimaksud ialah keris atau badik.
Badik dan keris dianggap dapat menebus aib bila menghadapi persoalan “Siri” bukan digunakan untuk menganiyaya tetapi membela kehormatan diri, kehormatan keluarga dan kehormatan tanah air dari bahaya yang mengancam. Kata orang yang bijak besi yang bertuah. Batu permata yang berkhasiat, perempuan yang baik dan bijak adalah mustika dambaan yang selalu dicahari oelh sebagian orang karena dianggap membawa berkah kebahagiaan dan dapat menjadi pelindung pada dirinya.
Siri Sipassiriki = ( )
Arti “Siri” dalam pembagiannya.
“Siri” menurut bahasa ialah malu. Tetapi bukan semua malu itu “Siri”. Siri yang dimaksud adalah harga diri seseorang.
Siri kadang timbul karena aib, kadang timbul karena mau membela kebenaran dan kesucian. Siri bagi orang Sulawesi Selatan utamanya Bugis Makassar merupakan pantangan aib dan pamali.
Siri dapat dibagi menjadi beberapa bagian :
1. Siri Puntana = (Malu tanah air)
2. Siri Kalabini = (Malu keluarga)
3. Siri Batang kale = (Malu Pribadi)
4. Siri Sipassiriki = (Malu yang terkait dengan orang lain)
5. Siri Sipairi-iri = (Malu dan siap berkorban)
Siri Puntana : disebut juga siri Butta, malu terhadap tanah air Negeri tercinta. Siri ini biasanya dimiliki oleh pejuang yang cinta tanah air yang lebih suka mati atau meninggalkan kedudukan dan Negerinya daripada ditindas atau dijajah Bangsa lain karena .
Dahulu banyak Raja-raja meninggalkan kedudukan dan kekuasaannya bahkan meninggalkan Negerinya daripada dijajah oleh Bangsa Asing karena “Siri” malu dijajah, malu melihat Arung Palakka. Berkualisi dan kerjasama dengan penjajah dan kecewa atas perlakuan Gowa terhadap Bone yang mengecilkan harga dirinya dan tidak merasa malu pada Negerinya. Akibatnya banyak pengikutnya yang meninggalkan beliau dan hijrah kedaerah lain seperti Malaysia dan Filiphina selatan karena “Siri”.
Contoh lain seperti Syekh Yusuf = ( ) Beliau meninggalkan Gowa dan hijrah ke Jawa bergabung dengan Sultan Ageng karena malu tinggal di Gowa setelah Gowa jatuh ketangan VOC / Belanda untuk melanjutkan perjuangannya karena “Siri” Nama beliau harum di Benteng dengan nama Maulana Yusuf di Paccelang, beliau dikena Syekh Yusuf Tajul Hayati Hidayatullah dan di Afrika dikenal dengan nama Syekh Yusuf Al-Makassar Al-Jawi Hidayatullah.
Semua gelar ini dicapai karena berjuang mempertahankan budaya “siri”
Siri Kalabine = ( ) artinya malu karena terusik harga dirinya disebabkan keluarganya kabur, kawin lari oleh seseorang yang tidak menempuh jalu adat yang sah sehingga mempermalukan keluarga dan menanggung aib bagi Tumasiri.
Siri yang demikian harus ditebus dengan darah dan pembunuhan yang dibenarkan oleh adat pada waktu itu. Bahkan Tumasiri dianggap lawan yang sukses menjalankan kewajibannya menghapus aib keluarganya dan mendapat pujian.
Siri Batangkale = ( ) malu pribadi, aib yang ditanggung seorang diri tanpa melibatkan orang lain sebagai Tumasiri. Siri ini biasanya terjadi karena perselisihan pribadi antara seorang dengan lainnya sehingga menimbulkan akibat menghina dan terhina karena ditempeleng atau menempeleng kepala.
Kepala menurut adat di Sulawesi Selatan khususnya bagi orang-orang Bugis Makassar dianggap “Lohen Mahfud” artinya pemberian Tuhan yang paling tinggi nilainya dan paling mulia karena terdapat otak dan pikiran yang membedakan manusia dan hewan, karena itu harus dijaga dan dihormati keutuhannya dan patut dilindungi.
Barang siapa mengganggunya dianggap penghinaan dan iab yang harus ditebus dengan darah. Menempeleng merupakan aib dan pantangan serta pamali yang tidak mengenal maaf dan kompromi, harus ditebus dengan darah sekalipun nyawa taruhannya.
Setiap orang yang sudah menempeleng harus siap dibunuh dan membunuh dan jika mau selamat dan aman lebih baik hijrah dan meninggalkan kampung.
Siri Sipassiriki = ( ) artinya malu yang terkait dan menyangkut orang lain seperti saudara, sahabat, teman dan pimpinan. Siri ini ditanggung bersama dalam satu kesatuan dan kumpulan.
Siri ini baru timbul apabila ada pihak ketiga yang disebut “Appkasiri” maka lahirlah Tumasiri. Dan Siri itu tidak memandang siapa dan kedudukannya. Apabila terlibat dalam perbuatan terhina atau menghina seperti menggauli istri orang lain atau memperkosa diluar kebiasaan adat, hukumnya harus dibunuh, tidak mengenal pangkat dan kedudukan. Apakah dia Raja, pimpinan atau orang-orang biasa sama saja karena perbuatannya tidak dibenarkan oleh Adat / Apabila “Siri” terjaga maka hamba akan mengabdi dan menghormati Paduka.
Siri Sipairi-iri = ( ) Siri ini disebut juga siri sipakaindah-indah. Siri semacam ini sangat berguna dan bermanfaat untuk dimiliki seseorang karena dapat meningkatkan gairah hidup dan perasaan sosial dan mudah berpartisipasi dalam pembangunan. Malu apabila tidak terlibat dalam kebaikan, dermawan dan suka menolong. Malu melihat pembangunan terlantar sehingga selalu mau berkorban. Jika dia pelajar malu melihat temannya berhasil sedang dia tidak. Jika seorang petani malu melihat temannya bekerja keras disawah sedang dia tinggal dirumah. Kalau seorang dermawan malu melihat orang menyumbang dan dia ketinggalan.
Siri yng demikian sangat diperlukan dalam pembangunan.
Siri itu tidak selalu berdiri sendiri tetapi kadang terlibat dengan budaya lainnya seperti Pacce atau Passe kemudian menyatu menjadi Siri Napacce yang dapat menimbulkan satu kesatuan dan kebersamaan satu kata dan satu perbuatan sebagai pegangan hidup mempertahankan kebenaran supaya terhindar dari aib nipakasiri. Kalau hal ini terjdi juga maka inilah yang dikatakan Siri Napacce, maka apapun yang terjadi pada diri seseorang itu merupakan takdir, mati atau membunuh.
Adapun Siri yang terkait dengan Sipatuwo si Patokkong artinya sehidup dan semati, Siri Sepenanggungan, hidup bersama matipun bersama, Siri yang demikian ini biasanya terdapat dalam tatanam persaudaraan dalam perantanam atau tatanam hidup dalam perjuangan yang mempunyai cita-cita yang sama kemudian tergusik yang menimbulkan aib, maka aib itu ditanggung bersama mempertaruhkan jiwanya.
Siri Napacce Sipatuwo Sipatokkong pernah dimiliki oleh Karaeng Allu OPPOKA ri Paccelang menentang kehadiran VOC Belanda dan mempertahankan Gowa bersama Raja-raja lainnya dari serangan Belanda. Beliau berjanji kepada Raja-raja lainnya didepan Raja Gowa bahwa kita hidup bersama matipun bersama = / / Untuk mempertahankan Gowa dari empat segi kehidupan = ( ).
Demikian macam-macam pembagian “Siri” yang biasa ditemui dalam buku-buku Lontara serta keterangan dari orang-orang tua dulu.
Appassili = ( )
“Appassili” artinya berusaha dan berikhtiar mengatasi bala bahaya yang mengkin terjadi bagi seseorang dengan serangan guna-guna, sihir atau ilmu hitam lainnya. Untuk mengatasi ini seseorang harus dimandi dengan air khusus dan orang inilah yang dibersihkan jiwa dan raganya dari gangguan ilmu hitam. Biasanya orang-orang yang di Passili itu ialah calon pengantin, Ibu yang sedang hamil dan sesudah melahirkan, anak-anak yang mau dikhitamkan dan orang yang pindah atau mau menaiki rumah baru.
Appassili ini memiliki juga tata cara yang berbeda sesuai hajat seseorang yang mau di Passili, seperti calon pengantin, beda dengan Ibu yang hamil muda atau ibu yang sudah melahirkan beda pula dengan naik rumah baru atu Sunatan. Perbedaan ini hanyalah tata cara tetapi maksud tujuannya sama, keselamatan, kesejahteraan, jauh dari mala petaka. Acara “Passili” ini biasa dihubungkan dengan acara “Appaccing” bagi calon pengantin (Mata korontigi). Bahan-bahan yang dipakai “Appassili” sebagai bahan ramuan supaya berkhasiat terdiri dari daun-daun.
1. Daun kayu tuli dengan harapan “Tulibaji” (selalu mendapat kebaikan).
2. Daun kayu tamate dengan harapan selalu sehat dan jauh dari penyakit.]
3. Daun tebu dengan harapan selalu mendapat manis bermanfaat kepada orang lain.
4. Bunga pinang ( ) dengan harapan selalu berbuah dan berhasil berkesinambungan.
5. Bunga puncuk kelapa dengan harapan semakin tua semakin banyak gunanya.
6. Daun siri dengan harapan memiliki “Siri” dan menjaga harga diri.
7. Daun sirikaya dengan pengertian kaya batin dan fisik, tidak terpengaruh dari godaan setan rakus harta yang tidak halal.
Daun-daun ini diikat menjadi satu ramuan dan direndam dalam satu wadah baskom tanah atau kuali tanah diatas okang dimaksudkan daun-daun itu menyatuh dengan tanah asal kejadian manusia. Selanjutnya dukun atu tua-tua adat dan Indo Botting mempercikkan kepada calon pengantin atau orang yang sedang di Passili selanjutnya dimandikan dengan harapan mensucikan diri dari gangguan yang mungkin terjadi pada dirinya dan berganti pakaian yang sudah disiapkan oleh dukun tua-tua adat atao Indo botting. Pakaian yang sudah dipakai mandi disebut “Lolloso Pakaian” diserahkan kepada dukun dan tua-tua adat atau Indo botting sesuai adat yang berlaku.
Selesailah sudah upacara Appassili ini dengan imblan jasa = ( ) = ( )
1. Gantang beras = 4 liter
2. Satu biji buah kepala + gula merah
3. Satu ikat daun siri + buah pinang
4. Lolloso pakaian yang sudah dipakai mandi
5. Uang ala kadarnya.
Semua ini dimaksudkan sebagai usaha menangkal ilmu-ilmu hitam dan guna-guna disertai dengan doa keselamatan.
Appassili ini bukan ajaran Islam tetapi merupakan peninggalan budaya leluhur yang harus kami hormati keberadaannya. Semata-mata untuk silaturrahim, bukan acara keagamaan dan kepercayaan yang menyesatkan ummat. Budaya ini adalah kebiasaan belaka yang berkembang secara alami turun temurun. Boleh ditinggalkan dan boleh ditinggalkan sebagai budaya bukan sebagai kepercayaan.
Demikian supaya kita terhindar dari kemusrikan yang dilarang oleh Islam.

Pappasan Turiolo / Papasan Tumatoa
Yang di maksud Pappasan adalah fatwa-fatwa tumatowa yang diyakini berasal dari Tumsnurung kemudian dijabarkan oleh cendkiawan dan di ramalkan oleh paranormal dahulu kala dan di jadikan Pappasan Turiolo atau Pappasan Tumatowa, Seperti:
Pappasang ri Toraja, pappasang ri Kajang, Kitta ri Bone, Lontara ri Gowa, mangkeu ri Luwu, serta sastrawan I Lagaligo.
Ada tiga cendekiawan Tumacca yang terkenal di Sulawesi Selatan yang banyak menjabarkan dan menafsirkan Buku I Lagaligo yang syarat akan Patwa dan Pappasan Turiolo, diantaranya:
1. Di Luwu sendiri tempat lahirnya I Lagaligo bukunyabanyak dijabarkan oleh Tumacana Luwuk yang bernama To Cilium menjadi Pappasan Tumatowa.
2. Di tanah Bugis yang terkenal dengan Kerajaan Cina kemudian melahirkan Kerajaan Wajo Bone dan Soppeng konon buku I Lagaligo banyak di tafsirkan oleh Pabbicara Tumaccana Tanah Ugi Kajao Laliddo sastrawan Karajaan Bone menjadi Pappasan Tumatowa.
3. Di Makassar utamanya Kerajaan Gowa Tallo dan Siang. Buku I Lagaligo banyak pula ditafsirkan oleh bonto lempangan peramal yang tersohor, menjadi” Pappasan Turiolo”.
Ketiga Tumaca/ Cendekiawan inilah yang sangat popular dalam cerita Legenda Rakyat di Sulawesi Selatan yang banyak melahirkan Pappasan Tumatowa atau Pappasan Turiolo, antara lain:
I. Darah Cendekiawan Tumacana Luwuk To Cilium berpatwa sebagai berikut:
Bilamana kelak cucunda menjadi datu di Soppeng, janganlah bersifat terlalu manis terhadap orang Soppeng sebab engkau akan di telan bulat-bulat pada mereka dan jangan pula terlalu pahit ( keras) terhadap mereka karena engkau akan di muntahkan oleh mereka.
Naiya asu makajoe jukumi nacaning-caning mareka cappui jukut muarengi ajema naokkoto ( ) artinya
Adapun anjing yang keras yang selalu datang di rumahmu hanya daging yang diinginkan. Jika daging habis yang engkau berikan kepadanya maka kakimupun yang akan di gigitnya.
3. Jagai balinnu weak sisen mujagai rangen rangemmu wekka sisebbu ( )
Artinya :
Musuh harus diwaspadai dan di awasi cukup sekali, orang dekat pendamping harus dijagai dan diwaspadai seribu kali karena orang dekatlah yang mengetahui rahasia tuannya.
Kalau ada orang selalu datang dirumahmu berbicara engakau harus mendengarkan, sebab banyak bohong yang dikatakannya. Panggil juga Cendekiawan yang tidak selalau ke rumahmu dan engkau tanyai banyak kebenaran yang dikatakannya.
Adakmi Totau molaitta gau rupait tajanci ( ) artinya: Hanya dari kata-kata kita dinilai sebagai manusia satunya kata dan satu perbuatan dan menepatinya.
Dari lontara kebudayaan Sulawesi oleh Zaenal Abidin

/ adakaji paleng tojeng iaji Ranrang tatappu talara bawang punna battu barubua.
II. Dari lontara Gowa terdapat pesan mangkubumi I menggadai Cina dg. Sitaba dari Tallo berkata. Ada lima sebab suatu Kerajaan Besar akan menjadi hancur:
1. Punna tenamo naero nipakainga karaeng Manggauka ( ) artinya: Bilamana Raja yang di agungkan yang memerintah Negeri tidak mau lagi dinasehati.
2. Angnganreasemmi Pasoso Tumabbicara ( ) artinya: Para pejabat Kerajaan masing-masing sudah memakan sogok.
3. Punna jaimo gau lompo nakaalla-alla ri Parasanganga ( ) artinya jika terlalu banyak kejadian pelanggaran adapt dalam kampong.
4. Punna tenamo namangangamaseng ri Atanna karaeng anggauka ( ) artinya Jika Raja yang diagungkan yang memerintah Negeri tidak lagi menyayang rakyatnya.
5. Punna tenamo Tumangngasseng I lalang Papparasangang ( ) artinya: Kalau tidak ada lagi orang-orang yang pintar Cendekia/ ulama dalam kampung.
Demikian Pappasanna Mangngadai Cian dg. Sitaba Ticaraddena Tallo.
III. Patwa Palipada yang dipercayai Tumanurunga di Enrekang sebelum menjadi Raja beliau berpatwa kepda persekutuan Adat, sebagai berikut.
a. Jangan sewenag-wenang mengambil milik orng lain.
b. Jangan menyimpang rasa dengki dalam hati kalian sehingga melecehkan orang lain.
c. Jangan iri hati jika orang lain menperoleh rejeki banyak sedang engkau mendapat rejaki sedikit saja.
d. Jangan pikirkan yang bukan-bukan terhadap orang lain yang telah memperoleh rezeki banyak sedang engkau mendapat reseki sdikit.
e. Jangan engkau mengatakan sesuatu tidak ada padamu padahal sebenarnya ada padamu.
f. Berikanlah kepada mereka yang berhak kalau memang patut untuk diberikan.
g. Janganlah dikatakan tidak ada padahal ada.
h. Janganlah engkau tidur bersama seorang perempuan yang tidak ada persetujuan orang tuanya.
i. Janganlah engkau merusak tatanan orang lain untuk kepentinganmu dan kepentingan golonganmu.
IV. Patwa Embong Bulan yang dipercayai Tumanurung di Duri kapada tuangke sebagai wakil rakyat pemangku adapt, sebagai berikut:
1. Jangan sekali-kali mengambil milik orang lain, kalau hal ini terjadi didalam kampung berarti kampong jadi kotor.
2. Janganlah engkau mengharapkan orang lain mendapat kesulitan akibat perbuatanmu, kalau hal ini dilakukan maka hukum umba akan berlaku didalam kampung-negeri.
3. Jangan sekali-kali melawan orang tuamu. Kalau hal ini dilakukan dan diperbuat maka Adat akan rusak.
4. Jangan menjatuhkan orang yang bersamaan kepadamu. Kalau hal ini dilakukan maka setiap manusia sudah tidak saling membutuhkan lagi (tidak dapatmemegang Amanah)
5. Jangan engkau melawan orang yang kala dan lemah, kalau hal ini dilakukan maka tidak ada lagi yang baik-baik di kampung.
V. Hambe pake lalomo Raja Duri ke II berpesan sebagai berikut:
1. Jangan suka marah
2. Selalu sepakat denag Dewab Pemangku Adat.
3. Jangan memandang rendah orang lain.
4. Jangan engkau muda mempercayai laporan orang lain.
5. Jangan menyuruh orang mengerjakan pekerjaan diluar kemampuannya.
6. Jangan sekali-kali melupakan janjimu kepada orang lain.
7. Jangan biarkan sanak saudaramu berbuat tidak patut terhadap orang lain.
8. Pertimbangkan baik-baik apabila ada seseorang pembawa berita kepadamu.
9. Tunjukkan simpati dan perhatian kepada sesame orang.
Patwa Lambe Lalomo ini disimpulkan dengan panasnya api, hembusnya anin, dinginnya air, datarnya bumi dan jiwa segala yang hidup. Artinya patwa ini merupakan pedoman hidup di dalam Pemerintahan dan kehidupan sehari-hari untuk meredakan panasnya api, dan menikmati hembusan angina dan dinginnya air serta berjalan di atas bumi denagn tenang dan damai dari segala makhluk yang hidup.
Selanjutnya Lambe Lalomo telah menetapkan wewenang dan kewajiban kepada Dewan Pemangku Adat sebagai berikut:
1. Kamulah hai Pemangku Adat yang menetapkan kadar emas yang muda menjadi tua.
2. kamulah pemangku adat hang menentukan keputusan dan membatalkannya.
3. kamulah pemangku adat yang memelihara memegang pengaturan peraturan tempat terhempas kuat tempat terlindung yang lemah ( rakyat kecil ).
4. bila pemangku adapt yang salah maka dunia akan hancur dan kacau balau, perempuan akan mati bersalin kampong dan negeri akan terbakar.
Masih banyak lagi Pappasan Turiolo dan Patwa Tumatowa yang biasa kita dengar dari legenda dan cerita rakyat diantaranya:
1.
Artinya:
Tidur itu bagus tetapi duduk itu lebih baik. Duduk itu memeng baik tetapi be4rjalan itu lebih baik.
2.


Artinya:
Berbaringlah sambil perfikir, duduklah sambil merenungkan, berjalanlah sambil berlenggang, memikirkan, merenungkan, keputusan apa yang akan diambil, baik atau buruk serahkan kepada yang maha memutuskan Allah SWT.

VI. Patwa Pabicara butane ( Pemangku Adat Kerajaan Tallo )
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Memanggil Pengantin ( )
Budaya lain yang pernah masuk di Paccelang Kerajaan Siang ialah memanggil pengantin laki-laki apabila sudah ada di tangga pengantin perempuan, seperti berikut ini:




















Disusun oleh H.M.Arief B
10/11-1995
Puisi Makassar atau Angngaru
Anggaru itu sudah benruk puisi Makassar yang kata-katanya tersusun rapi yang dapat membangkitkan semangat kepahlawanan mempengaruhi jiwa dan juga untuk menjadi pemberani, contohnya:
Cini-cinisai Karaeng

Tabadikku tabaditta

Pusaka butta riboeku.

Keremi bali sallomponna Gowa karaeng

I Labba songko karaengna Balandaya

Punna tarattu sumabngi bulu Saraung

Keremi bali sallompoanna Siang karaeng

Bunrang matannu lamebutung barambanna

Tenaja sanggara bangkenna

Keremi mange karaeng

Ribiring kassipi sallang karaeng

Ripannappassanna bombing

Ripokona lelleria

Ribatan dendedendeya

Nucinimi sallang karaeng

Ata tojeng-tojengta

Ata mambannang kebotta

Ansombali tumakkan buraneya

Kucini tommi sallang karaeng

Pasombala malolowa

Nataba sarro ri dolangan tamammelo


Kuassenji nabara lolo karaeng

Kunjungi lakusambalan

Kualleyanna tallang natowaliya

Keremi jangan rewaya karaeng

Bija jangan sandaowa

Nakaruntungan ballaka ri kampong beru

Keremi buri panoa karaeng

Tallu taunga ni songko

Tenambakkeya baraiyapanne sallang

Bake tojemma ka anne

Kanakkemo nurumpa

Baja tauwa
Burakne tanigandaya

Bake tojemmako sallang

Kainakkemo nugappa

Kuberang bulu

Kutebba takupepasu

Punna adapt nidongkoki karaeng

Rapangi balla sibatu

Benteng tatimpung

Pattongko takatoroang

Adakaji paleng tojeng karaeng

Iyaji rannang tatappu

Talara bawang
Punna battu barubua
Disusun 10/11-1995
Oleh
H.M. Arief B
Contoh lain baca pada halaman no 174

AGAMA dan KEPERCAYAAN
Sebelum Bangsa Asing masuk di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan lebih khusus lagi di Kerajaan Siang penduduk asli belum mengenal agama kecuali kepercayaan, bahwa seluruh benda yang ada diatas bumi ini mempunyai kekuatan gaib terutama pohon yang rindang dan keramat memiliki penunggu dari makhluk halus. Hal yang sama dimiliki pula oleh gua, batu besar dan muara sungai, semuanya memiliki penunggu. Kepercayaan yang demikian ini disebut kepercayaan animisme.
Mereka memuja dan memberikan sejarah berupa makanan yang disebut “Kanre Sibembeng” serta songkolo empat macam bersama ditempat yang dipercayai keramat.
Baru setelah pedagang dari sebrang, pedagang dari Cina membawa agama Budha dan pedagang dari India membawa agama Hindu serta agama Islam dibawa oleh pedagang dari Arab. Barulah Kerajaan dari Siang mengenal macam-macam agama Kristen Katolik yang dibawa dan dikembangkan oleh Bangsa Portugis.
Agama Budha
Setelah pedagang Cina masuk di Sulawesi Selatan khususnya Kerajaan Siang menjajakan barang dagangannya berupa piring, mangkok, guci-guci yang terbuat dari preslen. Orang Cina ini memperkenalkan pula agamanya, Agama Budha dikaitkan dengan kegunaan barang dagangannya, maka sebagian penduduk mulai mengenal Agama Budha dan mulailah membeli pedupaan arca tempat lilin penyembahan patung dan diperkenalkan pula pemuka Agama dan pimpinan tertinggi adalah bernama Biksu. Sebutan Biksu ini masih ramai ditahun 30-an sampai dengan 40-an. Biasanya dikategorikan sebagai orang waria = ( / ) dan pada pada penggalian barang-barang antik tahun 1961 sampai dengan 1964 banyak sekali piring, mangkok, arca, padupaan, guci buli-buli buatan Cina, dinasti ming. Membuktikan bahwa rakyat Siang pernah memeluk Agama Budha kira-kira abad ke XIII serta peninggalan tarian Biksu.
Agama Hindu
Jika Agama Budha disebarkan oleh pedagang dari Cina maka Agama Hindu disebarkan oleh pedagang dari India melalui Jawa dan Bali. Pedagang ini juga banyak menjual barang-barang berupa keramik, mankotatup saladong dan guci tempat perabuan setelah pembakaran mayat, pedupaan dan buli-buli.
Sebagai bukti bahwa Agama Hindu pernah dianut masyarakat Kerajaan Siang adanya kata Pinati dan tarian Pakarena yang mungkin berasal dari Agama tersebut. Karena kata Pinati itu hanya terdapat dalam pimpinan Agama Hindu. Selain dari itu terdapat pula bukti susunan kasta dalam masyarakata pada waktu itu. Bukti selanjutnya pada tahun 1961 sampai dengan 1963 diadakan penggalian barang-barang antik, banyak sekali guci buli-buli, mangkuk tutup yang penuh dan berisi abu yang diduga adalah perabuan mayat yang sudah dibakar bahkan ditemukan batu bertulis yang diduga tulisan Sansekerta, tetapi semua barang antik itu jatuh ditangan pedagang yang memburu barang-barang antik yang menguntungkan dan dijual di Makassar dan Jakarta.


Agama Kristen (Katolik)
Selain agama Budha dan Hindu, agama Kristen Katolik juga pernah masuk di Kerajaan Siang diperkirakan pada abad ke XIV yang dikembangkan oleh Portugis dari Barat.
I Bodo Bonde adalah Raja Siang yang terpengaruh menganut agama Kristen Katoli. Konon Istrinya adalah seorang gadis Portugis yang dijuluki dengan nama Tau I Laut artinya orang Barat. I Bodo Banda sendiri dijuluki Teyai rurung Kalaut artinya tidak mau ikut ke Barat, sekalipun istrinya seorang cantik kaya dan berkuasa seperti disindir dalam nyanyian pada pasca Agama Islam. Lihat halaman 37.
I Bodo Banda dibaktis menjadi Kristen dengan nama Dong Yoang dan Raja Suppa Lamakka Rawie dibaktis dengan nama Dong Luic dan menjadi penganut Kristen bersama keluarganya dan membangun gereja di Pangkajene dengan nama Sanbo Rafael tahun 1543 oleh beberapa pendeta diantaranya Antony de Vaeva.
Dengan demikian Kerajaan Siang ini pernah menerima Agama dunia yaitu Budha, Hindu, Kristen Katolik dan terakhir Agama Islam yang masing-masing dibawa oleh pedagang atau saudagar dan dikembangkan di Kerajaan Siang.
Agama Islam
Seperti agama-agama lainnya Agama Islam dibawa dan dikembangkan oleh pedagang Saudagar dari Arab hanya Malaka, Aceh, Minangkabau, Johor dan lain-lain pada permulaan abad ke XIV dan seterusnya dikembangkan di Jawa pada abad pertengahan ke XIV sampai ke Maluku, Ternate abad ke XV sedang di Sulawesi Selatan juah terlambat penerimaannya dan baru masuk di Kerajaan Gowa dan Tallo pada awal abad ke XVI.
Raja yang pertama masuk Islam di Sulawesi Selatan ialah Datu Luwuk yang bernama Lapatiroi Dg. Parambung kemudian digelar Sultan Muhammad, memerintah 1585-1610, beliau memeluk Agama Islam tahun 1604-1605 mungkin pengaruh dari Sultan Ternate.
Islamisasi Gowa Tallo atau Kerajaan Makassar bergabung pada abad ke XVI dan pada pertengahan abad ke XVI ketika itu pusat kekuasaan politik di Sulawesi Selatan berada di Kerajaan Makassar, Gowa dan Tallo. Saat itulah pedagang berdatangan dari negeri seberang Kerajaan Melayu dan Kerajaan dari Jawa yang lebih dulu menerima dan masuk Islam. Selain membawa barang-barang dagangan juga mengembangkan Agama Islam di Kerajaan Siang mendahului Gowa Tallo salah seorang diantaranya anaka Koda Bonang yang dikenal dengan Tuan Pandang Laut selanjutnya pindah ke Gowa dan Tallo karena mendapat perlakuan ostimewa dan diberi tempat untuk mengembangkan Agama Islam.
Baru setelah Islamisasi Gowa Tallo Siang menerima seoenuhnya Agama Islam dan bergabung menjadi Kerajaan Makassar kemudian diberi simbol bendera Kerajaan yang berlambang macan terbang yang disebut Cindeya atau macan keboka ri Tallo dan bendera tersebut masih ada pada tahun 2002. Berhasil diselamatkan dengan mencetak duplikat dari aslinya yang diusahakan oleh penulis dari poto kepunyaan saudara Baso Ujung.
Selanjutnya Agama Islam dikembangkan di Kerajaan Siang dengan dua jalur, yaitu :
1. Jalur pertama menempuh pengajian dan dakwah dengan sasaran memberikan pemahaman tentang akidah Iman dan Islam serta takwa kepada Tuhan melalui pengajian, baca Al-Qur`an dan barzanji serta pemahaman melalui kelong-kelong / nyanyian berbau agama Islam.
2. Jalur kedua melalui ajaran Tarikat pemahaman atas Keesaan Tuhan dari rumah kerumah dan memberikan keyakinan bathin atas adanya Tuhan yang menguasai alam semesta dengan jalur Tarikat, mewajibkan membaca zikir sebanyak-banyaknya demikian membaca shalawat Nabi, bertaubat setiap hari sekurang-kurangnya 300 kali.
Jalur Tarikat ini dikembangkan oleh khalifah-khalifah yang sudah mengerti dan mapan dalam agama dan menguasai dan memahami arti Tarekat itu sendiri melalui ilmu filsof = tassaufu.
Tarekat-tarekat yang berkembang pada zaman itu ialah tarekat nakasabandiyah, tarekat halawatiah dan disusul dengan tarikat muhammadiyah.
Dengan demikian melalui dua jalur ini agama Islam dapat berkembang di Kerajaan Siang dan Masjid yang pertama dibangun di Paccelang ialah Surau yang berlokasi di Bacowe.
Ulama yang sangat berpengaruh adalah Datu Mandara di sibatua Baru-baru.

Pendidikan dan Kebudayaan
Sejak dahulu kala Sulawesi Selatan dikenal mempunyai kebudayaan yang tinggi dan peradaban yang cukup lama ternyata rakyat Sulawesi Selatan memiliki huruf dan abjad tulisan tersendiri yang dapat dibaca.
Diantara suku-suku di Indonesia hanya beberapa suku yang memiliki tulisan tersendiri seperti tulisan melayu, tulisan jawa dan tulisan Lontara di Sulawasi Selatan.
Siapa penciptanya penulis belum pernah mendengar namanya; nama dan asal usulnya yang biasa didengar seorang keturunan Sawerigading yang bernama I Lagaligopernah menulis lastera setebal 7000 halaman, menandakan bahwa orang Sulawesi dari dulu sudah mempunyai cendekiawan. Yang disebut Tumacca membuktikan tingginya peradaban dan kebudayaan di Sulawesi Selatan.
Adapun huruf lontara yang terdapat di Sulawesi terdiri dari lontara jangan-jangan karena bentuknya kebanyakan menyerupai burung terbang Lontara ini termasuk lontara kuno dan tertua dan sudah jarang dijumpai kalaupun ada sudah kurang yang dapat membacanya. Huruf lontara lainnya disebut lontara bilang-bilang karena huruf ini kebanyakan di pakai oleh orang-orang tua dahulu kala menulis lontara silsilah keturunan raja-raja dan Appang (keturunan).
Kedua huruf lontara ini sudah jarang dijumpai dan tidak dipelajari lagi. Mungkin kedua lontara ini asal mulanya tulisan Cina dan India kuno digubah menjadi lontara sebab keduanya ada persamaan tulisan Cina dan Sansekerta.
Adapun tulisan dasar lontara ( ) baru adalah sbagai berikut:

Terdiri dari 19 huruf hidup sekaligus sebagai induk yang dapat dibaca tersendiri dan baru dapat berubah bunyinya apabila ditambahkan anak berbunyi O = bila huruf hidup ditambah dengan anak depan( ) baru dapat berbunyi = O dan berbunyi E= huruf hidup ditambahkan anak belakang ( )menjadi =E. berbunyi I = apabila huruf ditambah titik diatasnya = I berbunyi = apabila huruf hidup ditambah anak titik dibawah = u. Demikian selanjutnya dan inilah tanda anak yang dapat merobah bacaan anak didepan ( ) dibawah( ) atau ( ) anak inilah yang dapat merobah dan memperngaruhi bunyi induk.
Sejak dahulu tulisan lontara digunakan rang tua dulu untuk dijadikan alat komunikasi menulis surat, membikin surat perjanjian dan wasiat menulis lontara bilang dan lontara adat dan lain-lain sebagainya.
Selain dari tulisan lontara orang Sulawesi Selatan juga belajar tulisan melayu dan tulisan arab dengan ejaan Makassar. Tulisan ini banyak terdapat pada permulaan masuknya Islam di Kerajaan Siang. Berbentuk sastra, puisi makassar yang bersifat keagamaan termasuk Filsof dan Fikhi.
Ini membuktikan bahwa Raja di Sulawesi Selatan telah menggunakan tulisan lontara sebagai bacaan dan tulisan resmi sebelum ada sekolah tempat belajar, hanya diajarkan oleh ayah guru ngaji di rumah menjadi pondokan guna memudahkan tujuan yang akan di capai berkomunikasi.
Kebudayaan
Tinggi dan rendahnya derajat suatu bangsa dapat dilihat dan dinilai dengan ukuran tinggi rendahnya kebudayaan negeri Bangoa itu sendiri.
Apabila kita nelihat peninggalan sejarah yang masih ada terisisa maka dapatlah dipastikan bahwa Kerajaan Siang pernah menduduki posisi penting dalam perjuangan menentang penjajahan utamanya VOC/ Belanda sertaq pandangan antar Negara dan posisi turut mengambil keputusan politik.
Selain dari itu Kerajaan Siang banyak memiliki peninggalan sejarah dan kebudayaan salah satu diantaranya Pakarena atau Penari Pamingki, Pappalilikan, Pangngalean ulu ase, Aselolo, Pappa dendangan, Pappaddekoan yang sudah lebih dulu diterangkan menandakan bahwa kerajaan yang berbudaya dan beradat, seperti kerajaan-kerajaan lainnya.

Kehidupan Masyarakat
Apabila dilihat dan diamati geografi Kerajaan Siang yang memiliki tiga dimensi Gunung Darat dan Raut sangat menguntungkan dan menjanjikan masa depan bagi rakyatnya apabila dikelolah dengan baik.